Tabiang Barasok Bukittinggi Melaju 30 Besar WIA 2026

  • 05 Sep 2026 20:31 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO ID,Bukittinggi - Kabar membanggakan datang dari sektor pariwisata Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Tapian Tabiang Barasok, yang berada di kawasan Lapau Batu,

Kelurahan Bukik Apik Puhun, berhasil menembus 30 besar Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama Pesona Desa Wisata Indonesia.

Prestasi tersebut menempatkan Tapian Tabiang Barasok sebagai salah satu kampung wisata potensial dari ratusan nominator desa dan kampung wisata di tingkat nasional.

Sumatera Barat sendiri diwakili dua destinasi dalam jajaran tersebut, yakni Tapian Tabiang Barasok dari Kota Bukittinggi dan Desa Simarasok dari Kabupaten Agam.

Praktisi Pariwisata Sumatera Barat, Mochammad Abdi, mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai unsur melalui konsep pentahelix, terutama keterlibatan aktif masyarakat dan para pegiat wisata yang turut mendapat dukungan dari kalangan akademisi.

“Alhamdulillah, ini berkat kerja sama pentahelix seluruh unsur, utamanya masyarakat dan pegiat wisata dibantu akademisi. Tapian Tabiang Barasok dan Simarasok menyisihkan puluhan nominator di Sumbar dan ratusan lainnya tingkat nasional,” ujar Abdi di Bukittinggi, Sabtu (5/9/2026).

Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi momentum penting untuk mendorong Tapian Tabiang Barasok menjadi salah satu destinasi unggulan baru di Kota Bukittinggi.

Pesona Tebing Berasap di Bibir Ngarai Sianok

Nama Tabiang Barasok memiliki arti Tebing Berasap. Nama itu merujuk pada fenomena alam berupa kabut atau awan tipis yang kerap menyelimuti lembah dan t"Ngarai Sianok",".

Berada di bibir Ngarai Sianok, kawasan ini menawarkan lanskap alam yang menjadi daya tarik tersendiri. Suasana alami, bentang lembah, serta fenomena kabut yang menyelimuti kawasan menciptakan karakter wisata yang berbeda dari destinasi lain di Bukittinggi.

Tapian Tabiang Barasok Bukittinggi Tembus 30 Besar WIA 2026, Destinasi di Bibir Ngarai Sianok Ini Siap Naik Kelas

BUKITTINGGI — Kabar membanggakan datang dari sektor pariwisata Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Tapian Tabiang Barasok, yang berada di kawasan Lapau Batu, Kelurahan Bukik Apik Puhun, berhasil menembus 30 besar Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama Pesona Desa Wisata Indonesia.

Prestasi tersebut menempatkan Tapian Tabiang Barasok sebagai salah satu kampung wisata potensial dari ratusan nominator desa dan kampung wisata di tingkat nasional.

Sumatera Barat sendiri diwakili dua destinasi dalam jajaran tersebut, yakni Tapian Tabiang Barasok dari Kota Bukittinggi dan Desa Simarasok dari Kabupaten Agam.

Praktisi Pariwisata Sumatera Barat, Mochammad Abdi, mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai unsur melalui konsep pentahelix, terutama keterlibatan aktif masyarakat dan para pegiat wisata yang turut mendapat dukungan dari kalangan akademisi.

“Alhamdulillah, ini berkat kerja sama pentahelix seluruh unsur, utamanya masyarakat dan pegiat wisata dibantu akademisi. Tapian Tabiang Barasok dan Simarasok menyisihkan puluhan nominator di Sumbar dan ratusan lainnya tingkat nasional,” ujar Abdi di Bukittinggi, Sabtu (5/9/2026).

Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi momentum penting untuk mendorong Tapian Tabiang Barasok menjadi salah satu destinasi unggulan baru di Kota Bukittinggi.

Pesona Tebing Berasap di Bibir Ngarai Sianok

Nama Tabiang Barasok memiliki arti Tebing Berasap. Nama itu merujuk pada fenomena alam berupa kabut atau awan tipis yang kerap menyelimuti lembah dan tebing {"fallbackMarkdown":"Ngarai Sianok","reference":{"alt":"Ngarai Sianok","category":"point_of_interest","extra_params":{"disambiguation":"Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia"},"name":"Ngarai Sianok","prompt_text":"Ngarai Sianok","status":"done","type":"entity"},"referenceKey":"0","showLoginRequiredCard":false}.

Berada di bibir Ngarai Sianok, kawasan ini menawarkan lanskap alam yang menjadi daya tarik tersendiri. Suasana alami, bentang lembah, serta fenomena kabut yang menyelimuti kawasan menciptakan karakter wisata yang berbeda dari destinasi lain di Bukittinggi.

Keindahan tersebut selama ini telah dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas wisata dan kegiatan luar ruang, mulai dari outbound, pelatihan luar ruang, gathering, hingga glamping.

Potensi itu dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan sehingga Tapian Tabiang Barasok tidak hanya menjadi tempat kunjungan, tetapi juga kawasan wisata berbasis pengalaman dan pemberdayaan masyarakat.

Kekuatan Utama: Masyarakat Bergerak Bersama

Abdi menilai salah satu keunggulan Tapian Tabiang Barasok terletak pada penerapan Community Based Tourism (CBT) yang dinilai sangat kuat.

Masyarakat setempat, kata dia, telah bertahun-tahun melakukan gotong royong untuk membangun sekaligus merawat kawasan wisata tersebut.

Community Based Tourism-nya istimewa. Partisipasi nyata dari masyarakat setempat, mereka bertahun-tahun gotong royong bersama membangun dan merawat. Lahan disediakan tokoh adat setempat dan dipercayakan kepada kelompok sadar wisata (Pokdarwis),” jelasnya.

Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan destinasi. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam proses pengelolaan dan pengembangan kawasan wisata.

Konsep tersebut sekaligus membuka peluang agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar.

UMKM Lokal Ikut Menjadi Daya Tarik

Potensi Tapian Tabiang Barasok tidak berhenti pada panorama alam. Kawasan di sekitarnya juga memiliki ekosistem usaha masyarakat yang cukup beragam.

Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkembang dengan produk yang memiliki keterkaitan erat dengan potensi lokal, di antaranya usaha sulaman, kerajinan peci nasional, hingga produksi kopi lokal.

Keberadaan UMKM tersebut dapat menjadi bagian penting dari rantai ekonomi pariwisata, sekaligus memberikan pengalaman yang lebih lengkap bagi wisatawan.

Wisatawan tidak hanya datang menikmati pemandangan, tetapi juga dapat mengenal produk, keterampilan, dan kreativitas masyarakat setempat.

Lolos 30 Besar Jadi Momentum Naik Kelas

Abdi berharap pencapaian di tingkat nasional tersebut semakin membangkitkan semangat masyarakat yang selama ini bekerja secara gotong royong membangun Tapian Tabiang Barasok.

“Dengan prestasi nasional ini, semoga mempengaruhi semangat masyarakat. Kerja keras mereka terobati. Tabiang Barasok memenuhi 10 indikator penilaian Kemenpar RI,” katanya.

Sepuluh indikator tersebut mencakup kelembagaan desa, pengelolaan, atraksi, ekonomi, peran masyarakat, fasilitas, akses, homestay, kemitraan, dan digital.

Terpenuhinya berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa Tapian Tabiang Barasok memiliki modal yang cukup kuat untuk berkembang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.

Kini, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi pengelolaan, meningkatkan kualitas fasilitas dan layanan, memperkuat promosi digital, serta memastikan perkembangan pariwisata tetap berjalan seiring dengan kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Jika dikelola secara berkelanjutan, Tapian Tabiang Barasok bukan tidak mungkin menjadi ikon baru wisata berbasis masyarakat di Kota Bukittinggi, sekaligus memperkaya pilihan destinasi di kawasan Ngarai Sianok.

Prestasi 30 besar WIA 2026 pun menjadi titik awal. Dari sebuah kawasan yang dibangun melalui gotong royong masyarakat, Tapian Tabiang Barasok kini mulai mendapat panggung lebih luas di tingkat nasional

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....