Hijrah Batiniah Melalui Sahari Dipatigo, Samalam Diparampek

  • 16 Jun 2026 07:35 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Payakumbuh — Di zaman sekarang, banyak dari kita yang terjebak dalam kesibukan kerja yang luar biasa. Kita sering melihat orang yang begitu sukses di kantor atau di luar rumah, tetapi ketika pulang, kehidupan keluarganya berantakan dan hatinya terasa kosong. Sukses materi ternyata harus dibayar mahal dengan hilangnya ketenangan jiwa.

Melihat kenyataan hidup masyarakat saat ini, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir, memberikan sebuah renungan mendalam. Ditemui setelah acara Muhasabah Akhir Tahun Hijriyah yang diadakan Pemerintah Kota Payakumbuh, Senin (15/6/2026), dosen UIN Bukittinggi sekaligus penggiat literasi falsafah Minangkabau ini menawarkan sebuah jalan keluar yang sejuk dari perpaduan ajaran Islam dan falsafah kearifan dari bumi Minangkabau.

"Jalan keluar dari pincangnya hidup zaman sekarang sebetulnya sudah lama diajarkan oleh nenek moyang kita lewat ungkapan: 'Hari sahari dipatigo, malam samalam diparampek' (Hari sehari dibagi tiga, malam semalam dibagi empat)," ujar Dr. Irwandi dengan ramah dan jelas.

Menurutnya, ungkapan ini bukan sekadar cara kuno untuk mengatur jam kerja. Ini adalah sebuah ajakan bagi setiap orang untuk memperbaiki batin dan mengatur waktu dengan adil, agar kita bisa mendapatkan kembali keberkahan dan keseimbangan hidup.

Mengatur Sepertiga Siang: Mencari Nafkah yang Berkah

Bagaimana falsafah kearifan Minangkabau ini berguna untukkehidupan sehari-hari kita? Dr. Irwandi menjelaskannya dengan sangat sederhana. Ketika matahari terbit, aturan Minangkabau meminta kita membagi waktu siang menjadi tiga bagian yang pas. Cara ini sangat baik agar pikiran kita tidak lelah dan stres karena beban hidup yang menumpuk.

Sepertiga pertama digunakan sepenuhnya untuk bekerja mencari nafkah yang halal. Sepertiga kedua digunakan untuk mengurus organisasi, membantu sesama, dan berbuat baik di tengah masyarakat. Lalu, sepertiga terakhir wajib dipakai untuk mengistirahatkan badan agar tubuh tetap sehat dan bugar.

Menurut Dr.Irwandi Nashir, dalam ajaran Islam, pembagian waktu yang seimbang ini adalah bukti nyata dari tujuan beragama, yaitu menjaga iman, nyawa, pikiran, keturunan, dan harta secara bersamaan. Semangat hijrah dalam hal ini berarti memindahkan semua kegiatan harian kita agar berjalan di jalan agama, tanpa ada satu pun hak yang ditinggalkan.

Sifat seimbang ini, jelasnya, sangat cocok dengan tuntunan Al-Qur'an dalam Surah Al-Qashas ayat 77. "Allah Ta'ala mengingatkan manusia agar mengejar kebahagiaan akhirat, tetapi jangan sampai melupakan kesenangan di dunia, " jelasnya.

Lewat ayat ini, lanjutnya, kita diajak untuk mengubah cara hidup yang berat sebelah. Sukses kerja dan uang di siang hari harus sejalan dengan kebaikan kita kepada orang-orang di sekitar kita.

Membagi Empat Malam: Berbisik dengan Sang Pencipta

Namun, ulasanya, hidup yang berkah tidak boleh berhenti pada ramainya suasana siang. Ketika sore tiba dan matahari mulai tenggelam, ritme hidup kita harus berubah menuju suasana dalam rumah yang lebih tenang. Di sinilah waktu malam yang dibagi empat menjadi saat yang tepat untuk membersihkan batin kita.

Dr. Irwandi menjelaskan pembagian malam ini dengan penuh makna, yaitu seperempat malam pertama diberikan sepenuhnya untuk berkumpul dan mengobrol dengan keluarga di rumah.

Seperempat malam kedua, terang Irwandi, digunakan untuk membaca atau belajar demi menambah ilmu dan menyegarkan pikiran. "Lalu, dua perempat malam terakhir, adalah puncak dari segala ibadah, yaitu waktu untuk salat malam dan memeriksa kesalahan diri sendiri selama ini, " terangnya.

"Di tengah sunyinya sepertiga malam terakhir itulah, kita membersihkan hati kita. Kita buang penyakit sombong, gila hormat, egois, dan sifat serakah pada dunia yang sering menempel pada diri kita. Renungan malam ini menyadarkan siapa kita yang sebenarnya: hanyalah seorang hamba yang lemah yang bersujud di hadapan Allah," kata Dr. Irwandi.

Kesadaran iman yang dipupuk di keheningan malam inilah yang membentuk watak manusia yang kuat, seimbang, dan meniru sifat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Dr. Irwandi kemudian mengajak kita mengingat kembali khotbah pertama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam saat baru sampai di Madinah setelah perjalanan hijrah. Waktu itu, Nabi bersabda: "Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahim, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat" (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).

Dijelaskannya, perintah memberi makan orang susah dan menyambung silaturahim adalah contoh kegiatan di siang hari untuk urusan sosial dan ekonomi. Sedangkan perintah salat malam ketika orang lain sedang tidur nyenyak adalah gambaran indah betapa dekatnya kita dengan Allah Ta'ala di waktu malam.

Dari contoh Nabi ini, jelasnya, dapat dipahami bahwa baiknya kehidupan suatu bangsa selalu dimulai dari cara mengatur waktu dan jujurnya sifat masing-masing orang.

"Pada akhirnya, semua aturan waktu ini membuktikan bahwa ungkapan “Hari sahari dipatigo, malam samalam diparampek” tetap menjadi penunjuk arah yang sangat cocok untuk masyarakat modern, " ungkap Irwandi yang juga baru saja merilis buku terbarunya Caro Minang: Pusaka Kearifan dari Bumi Minangkabau.

"Mengubah cara mengatur waktu mengajarkan kepada kita bahwa orang yang bahagia bukanlah mereka yang menghabiskan seluruh umurnya hanya untuk bekerja mencari uang, " jelas Irwandi.

Mengakhiri wawancara, Irwandi Nashir menyampaikan bahwa manusia yang baik adalah orang yang tenang, bisa menahan diri, tahu kapan harus berjuang keras di luar rumah, dan tahu kapan harus bersujud menangisi kelemahan dirinya di keheningan malam. "Inilah irama hidup yang sesungguhnya, yaitu orang yang baik di mata manusia, tetapi tetap mulia di hadapan Allah Ta'ala, " jelasnya. ()

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....