Limapuluh Kota Kembali Dilanda Bencana, DPRD Minta Pemkab Ambil Langkah Cepat
- 13 Mei 2026 12:41 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Limapuluh Kota - Sejumlah wilayah di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, kembali dilanda longsor, banjir, dan tanah amblas, akibat hujan deras yang turun sejak Selasa, 12 Mei 2026 sore, hingga Rabu, 13 Mei 2026 dini hari.
Anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang melilihat lokasi longsor di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Rabu, 13 Mei 2026, meminta pemerintah daerah, segera mengambil langkah cepat, untuk menangani bencana hidrometeorologi ini.
"Kita minta, pemda segera melakukan langkah tanggap darurat. Mulai dari kaji cepat lokasi dan kerusakan bencana, penyelamatan dan evakuasi, pembersihan lokasi, sampai pemenuhan kebutuhan dasar warga yang melakukan evakuasi secara mandiri," ujarnya.
Jika dampak bencana ini meluas dan dana operasional petugas penanganan bencana terbatas, Fajar Rillah Vesky meminta pemerintah daerah, tidak ragu-ragu menetapkan status tanggap darurat bencana. Guna melegalkan penggunaan dana tak terduga dalam pos APBD 2026, dan mobilisasi bantuan dari banyak pihak.

"Khusus longsor di Situjuah Ladang Laweh, harus segera ditangani. Karena, akses jalan satu-satunya untuk keluar-masuk nagari ini, tak hanya amblas membentuk lubang mirip sinkhole. Tapi ditimbun material longsor. Sebanyak, 600 Kepala Keluarga dengan total 2.000 jiwa warga terisolasi," terangnya.
Selain di Situjuah Ladang Loweh, bencana hidrometerologi di Nagari Tungkar, membuat warga setempat mengungsi. Kemudian, aliran sungai Batang Sandir atau Batang Air Pondam yang bermuara ke Batang Agam Payakumbuh juga kembali meluap. Merendam areal pertanian dan merusak area lubuk ikan larangan.
"Pemerintah nagar terdampak bencana, tentu sedang mendata kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana ini. Laporan dari nagari dan camat, harus jadi perhatian serius pemda," jelasnya.

Tak hanya mendesak pemda mengambil langkah tanggap darurat, Fajar Rillah Vesky mendorong pemda, bisa melakukan penanganan bencana dari hulu ke hilir atau secara komperhensif. Jangan parsial, sporadis, dan reaktif saat bencana saja.
"Banyak pakar dan ahli lingkungan sudah menyebut, bahwa bencana hidrometerologi yang terjadi di Limapuluh Kota, bukan masalah lokal saja. Tapi terkait dengan ekosistem atau anomali iklim. Maka harus ada penanganan jangka panjang dan mitigasi," ungkapnya. (YPA/AGZ)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....