Pengacara Senior Riyan Permana Putra Jembatani Aspirasi Buruh & Ketertiban Kota

  • 25 Apr 2026 15:51 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi - Malam itu, suasana di RM Gon Raya Sudirman terasa berbeda. Bukan sekadar jamuan makan malam biasa, melainkan ruang pertemuan gagasan. Di antara percakapan yang mengalir, nama Riyan Permana Putra bersama Pengurus dan Penasihat KSPSI Bukittinggi muncul sebagai salah satu sosok yang memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan antara aspirasi buruh dan stabilitas kota.

Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026, Riyan yang menjabat sebagai Wakil Ketua KSPSI Bukittinggi hadir bersama jajaran pengurus dan penasihat organisasi untuk bersilaturahmi dengan Ruly Indra Wijayanto. Pertemuan pada Jumat, 25 April 2026 itu bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi ruang dialog yang hidup—tentang buruh, kota, dan cara merawat keduanya secara bersamaan.

Di meja makan yang sederhana, percakapan mengalir tanpa sekat. Aspirasi buruh dibicarakan terbuka, sekaligus kekhawatiran tentang ketertiban kota turut dipertimbangkan. Dalam suasana seperti itulah, Riyan terlihat lebih banyak mendengar, sesekali menyampaikan pandangan dengan nada tenang namun terukur.

Dari Aktivis Bantuan Hukum ke Penggerak Serikat

Bagi sebagian orang, Riyan mungkin dikenal sebagai praktisi hukum. Namun, jejaknya dalam isu perburuhan tidak lahir tiba-tiba. Ia pernah terlibat langsung sebagai asisten bantuan hukum di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, sebuah pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia buruh.

Di Jakarta, dalam momentum May Day, Riyan menjadi bagian dari tim yang bersiaga memberikan pendampingan hukum bagi para buruh yang menghadapi persoalan pasca-aksi. Dari situlah ia melihat secara langsung bagaimana dinamika di lapangan kerap berujung pada persoalan hukum yang membutuhkan pendampingan cepat dan tepat.

Pengalaman itu membekas. Ia tidak hanya memahami buruh sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai manusia yang berhadapan dengan sistem—kadang tanpa perlindungan yang cukup.

“Buruh itu bukan sekadar angka dalam statistik. Mereka adalah orang-orang yang punya keluarga, punya harapan, dan kadang harus menghadapi risiko ketika menyuarakan haknya,” begitu kira-kira pandangan yang sering ia sampaikan dalam berbagai forum.

Menjaga Ritme: Aspirasi dan Kondusifitas

Dalam pertemuan bersama Kapolresta Bukittinggi, KSPSI menawarkan dua opsi peringatan May Day: aksi damai di ruang publik atau forum dialog bersama Forkopimda. Pilihan itu mencerminkan pendekatan yang tidak konfrontatif, melainkan komunikatif.

Di sinilah peran Riyan terasa relevan. Dengan latar belakang hukum dan pengalaman advokasi, ia memahami bahwa ruang demokrasi perlu dijaga—tetapi juga harus diiringi dengan tanggung jawab sosial.

Kapolresta pun menyambut baik pendekatan tersebut. Ia menegaskan bahwa penyampaian aspirasi adalah bagian dari demokrasi, selama tetap menjaga ketertiban dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

Pertemuan itu menghasilkan satu hal penting: kesepahaman. Bahwa May Day di Bukittinggi bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan bagaimana suara itu bisa didengar tanpa menimbulkan kegaduhan.

Demokrasi di Meja Makan

Yang menarik, tidak ada podium, tidak ada mikrofon resmi, tidak pula tekanan formalitas. Hanya meja makan, percakapan santai, dan kesediaan untuk saling mendengar.

Bagi Riyan, mungkin inilah bentuk demokrasi yang paling membumi—dialog yang terjadi tanpa jarak. Ia tidak berdiri sebagai orator malam itu, melainkan sebagai penghubung: antara buruh dan aparat, antara aspirasi dan kebijakan.

Di tengah dinamika perburuhan yang kerap memanas di berbagai daerah, pendekatan seperti ini terasa sederhana—namun justru di situlah kekuatannya.

Menjelang May Day 2026, Bukittinggi tampaknya memilih jalannya sendiri. Bukan dengan riuh yang berlebihan, tetapi dengan penyampaian aspirasi yang tertib dan terarah.

Dan di antara percakapan itu, ada sosok seperti Riyan Permana Putra—yang tidak hanya hadir sebagai pengurus serikat, tetapi juga sebagai seseorang yang memahami bahwa memperjuangkan hak buruh tidak selalu harus dengan benturan, melainkan bisa juga dengan jembatan.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pengurus KSPSI Bukittinggi, di antaranya Yanda, Sekretaris, Taufik Dt Nan Laweh selaku Penasihat, serta jajaran Wakil Ketua yakni Chandra Roni, dan Jimmy Hendrik.

Sementara itu, Ketua KSPSI Bukittinggi Heri Tito Rinaldi, SH, MKn diketahui berhalangan hadir dalam pertemuan tersebut karena sedang berada di luar negeri dalam agenda lain.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....