Seni Melindungi Keluarga Dengan Kesadaran dan Ketulusan Hati

  • 13 Apr 2026 08:03 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Agam – Cahaya matahari pagi pukul 10.00 WIB menyusup masuk melalui jendela Masjid Babussalam Pakan Ambek, Nagari Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu. Di dalam masjid, suasana tampak begitu hidup. Ibu-ibu yang tergabung dalam Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Permata berkumpul, bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan untuk menyimak sebuah narasi tentang pertahanan terdalam manusia: keluarga.

Pagi itu, Silvia, M.Biomed., dosen dari Universitas Fort de Kock Bukittinggi, berdiri di hadapan jamaah. Ia tidak sedang membedah jurnal ilmiah di ruang laboratorium yang dingin, melainkan sedang mengetuk pintu kesadaran para ibu untuk melihat rumah mereka dengan kacamata yang lebih dalam dan penuh kasih.

Memahami Kerentanan Fisik dan Jiwa

Dalam paparannya yang memadukan sisi humanis dan presisi biomedis, Silvia menjelaskan bahwa setiap anggota keluarga memiliki "titik retak" yang berbeda. Bagi bayi dan balita, kerentanan itu terletak pada organ tubuh yang belum matang.

“Paru-paru, hati, dan ginjal mereka ibarat bangunan yang semennya belum kering benar. Mereka sangat sensitif terhadap polutan sekecil apa pun,” jelas kandidat Doktor Ilmu Lingkungan itu. Namun, saat anak beranjak remaja, terangnya, tantangan bergeser ke labirin saraf. Pusat emosi yang sedang mekar tanpa kendali diri (prefrontal cortex) yang kokoh menjadikan remaja rapuh secara mental. Di sinilah, rumah harus menjadi pelabuhan yang tenang, bukan justru menjadi sumber badai baru.

Silvia juga menyentuh fase "mukjizat biologis" pada ibu hamil dan menyusui, serta masa senja para lansia. Ia mengingatkan bahwa bagi orang tua, kesepian sering kali lebih mematikan daripada penurunan fungsi fisik. Penghargaan dan kehadiran utuh anggota keluarga adalah obat terbaik yang tak bisa digantikan oleh suplemen mana pun.

Sambutan Hangat dari Jantung Nagari

Materi yang disampaikan dengan penuh rasa ini mendapat apresiasi tinggi dari penyelenggara. Elva, S.Ag., Ketua BKMT Permata Nagari Ladang Laweh, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencerahan yang diberikan oleh narasumber.

“Apa yang disampaikan Ibu Silvia sangat membuka mata kami. Selama ini kita mungkin hanya fokus pada fisik, tapi lupa bahwa ada kebutuhan jiwa dan biologis yang harus dijaga dengan ilmu. Ini adalah bekal berharga bagi para ibu di Nagari Ladang Laweh untuk membangun keluarga yang lebih tangguh dan sehat,” ujar Elva dengan nada optimis.

Mendidik dengan Hati sebagai Solusi

Di akhir pertemuan yang khusyuk tersebut, Silvia menawarkan sebuah konsep pamungkas: "Mendidik dengan Hati". Sebuah seni untuk memahami sebelum bereaksi, dan membimbing tanpa meninggalkan luka batin yang menetap sebagai memori biologis seumur hidup.

“Luka fisik bisa sembuh, tapi luka psikologis menetap lama dalam ingatan seseorang,” pesan Silvia menutup sesi pagi itu.

Melalui edukasi ini, BKMT Permata berhasil membawa sebuah pesan penting ke rumah-rumah di Banuhampu: bahwa kekuatan sebuah keluarga tidak hanya dibangun dari kokohnya tiang rumah, melainkan dari kesadaran, kelembutan, dan kasih sayang yang dihadirkan secara utuh oleh setiap penghuninya. Di tangan para ibu, rumah pun kembali pada fungsinya yang paling hakiki: menjadi benteng perlindungan terindah.()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....