Menakar Kepastian Ibadah Lewat Presisi Ilmu Hisab
- 17 Mar 2026 21:43 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Payakumbuh - Di tengah kemajuan teknologi antariksa yang kian presisi, penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia masih kerap diwarnai ketidakpastian. Usai memantau persiapan pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Payakumbuh, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir, kepada RRI, Selasa, 17/3/2026, menyampaikan pandangannya terhadap fenomena "drama malam" penentuan 1 Ramadhan atau 1 Syawal yang seringkali baru diputuskan beberapa jam sebelum hari pelaksanaan.
Menurut Irwandi Nashir, ketidakpastian ini berdampak luas pada manajemen sosial umat, mulai dari logistik Lebaran hingga koordinasi transportasi nasional. Ia mendorong transformasi cara pandang dari sekadar pengamatan fisik (rukyat) menuju penetapan kalender Islam jangka panjang yang lebih stabil.
"Agama hadir untuk memberikan ketenangan, bukan ketidakpastian. Sudah saatnya kita beranjak menuju sistem yang memberikan kepastian bagi jutaan umat," ujar dosen UIN Bukittinggi itu.
Landasan Rasionalitas Ilahiah
Irwandi Nashir menepis anggapan bahwa penggunaan metode hitung atau hisab adalah sebuah bentuk bid’ah (perkara baru yang dilarang). Ia justru melihatnya sebagai bentuk kepatuhan terhadap hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rahman ayat 5:“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
"Ayat ini merupakan legitimasi bahwa pergerakan benda langit bersifat sistematis dan dapat diprediksi secara matematis. Maka, menggunakan hisab adalah bentuk pengamalan terhadap ayat-ayat kauniyah yang telah Allah hamparkan," jelasnya.
| Baca juga: Kemenag Bentuk Tim Sensus LPQ MDT |
Secara historis, Irwandi Nashir memaparkan bahwa perintah rukyat pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersifat kontekstual karena kondisi masyarakat saat itu yang belum mengenal literasi astronomi (ummiyah). Namun, di era digital saat ini, di mana mayoritas masyarakat lebih akrab dengan gawai daripada instrumen optik manual, metode hisab menjadi relevan sebagai wasilah atau sarana mencapai tujuan ibadah yang lebih akurat.
Dimensi Maslahat dan Persatuan
Setidaknya ada enam alasan sosiologis dan teknis yang dipaparkan Irwandi Nashir mengapa hisab menjadi pilihan yang lebih maslahat bagi masyarakat modern:
(1) Akurasi dan Kepastian: Hisab memberikan data yang tetap tanpa dipengaruhi faktor cuaca, polusi cahaya, atau kesalahan optik manusia.
(2) Perencanaan Sosial: Jadwal ibadah dapat diketahui bertahun-tahun sebelumnya, memudahkan perencanaan libur nasional, ekonomi, dan logistik rumah tangga.
(3) Efisiensi Sumber Daya: Penggunaan hisab meminimalisasi pengerahan personel dan anggaran besar untuk pemantauan fisik di ratusan titik yang kerap terhalang mendung.
(4) Integrasi Global: Hisab menjadi pintu masuk bagi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), yang memungkinkan umat Islam di seluruh dunia merayakan hari besar secara serempak.
Irwandi Nashir menekankan pentingnya membedakan antara ibadah pokok (mahdhah) dengan strategi atau sarana (wasilah). "Memilih hisab bukan berarti meninggalkan sunnah. Sebaliknya, ini adalah upaya mengorganisir ketaatan umat dengan ilmu pengetahuan," tuturnya.
Ia menutup dengan refleksi bahwa Islam Berkemajuan semestinya menjemput masa depan dengan kepastian. "Seperti sabda Nabi, kita lebih tahu urusan dunia kita. Maka, menggunakan teknologi untuk ketertiban ibadah adalah bentuk ijtihad yang paling luhur di era sekarang," pungkas muballigh Muhammadiyah itu. ()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....