Retret Ruhiyah Kepemimpinan Sosial-Spiritual Mahyeldi-Vasko Inspiratif

  • 04 Mar 2026 17:01 WIB
  •  Bukittinggi

Oleh Musfi Yendra

[Komisioner Komisi Informasi Sumbar]

Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia bukan hanya ruang ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat hubungan sosial antara pemimpin dan masyarakat.

Dalam konteks ini, kegiatan Safari Ramadhan yang dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy bersama jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat serta stakeholder menghadirkan sebuah pendekatan kepemimpinan yang menarik: memadukan pelayanan publik, kedekatan sosial, dan pembinaan spiritual dalam satu rangkaian aktivitas.

Safari Ramadhan tidak sekadar agenda kunjungan resmi pemerintah. Rangkaian kegiatannya menghadirkan interaksi yang hangat dan sederhana: buka puasa bersama warga di masjid-masjid pelosok, shalat tarawih berjamaah, itikaf di masjid, hingga singgah sahur di rumah warga yang kurang mampu.

Dalam beberapa kesempatan, kegiatan tersebut juga diiringi dengan program bedah rumah bagi masyarakat miskin serta dialog terbuka antara pemerintah dan warga mengenai berbagai persoalan kehidupan mereka.

Jika dicermati lebih dalam, rangkaian kegiatan ini tidak hanya memiliki dimensi sosial, tetapi juga menjadi retret ruhiyah bagi para pejabat.

Retret ruhiyah dapat dipahami sebagai proses penyegaran spiritual yang memberi ruang refleksi bagi seseorang atas tanggung jawab dan amanah yang diembannya. Bagi para pejabat yang sehari-hari berada dalam rutinitas birokrasi, momentum seperti ini menghadirkan pengalaman batin yang penting.

Ketika seorang pejabat duduk bersila di lantai masjid bersama masyarakat desa, berbuka dengan hidangan sederhana, lalu melaksanakan tarawih dan itikaf bersama, maka terjadi proses pembelajaran kepemimpinan yang sangat nyata.

Pejabat tidak lagi berada di ruang formal birokrasi yang penuh protokol, tetapi berada di ruang sosial yang menumbuhkan empati dan kedekatan kemanusiaan.

Dalam perspektif teori kepemimpinan modern, pendekatan yang dilakukan dalam Safari Ramadhan ini dapat dipahami melalui beberapa model kepemimpinan yang relevan.

Pertama, pendekatan ini mencerminkan prinsip servant leadership atau kepemimpinan melayani yang diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf.

Dalam konsep ini, pemimpin bukanlah sosok yang menempatkan dirinya di atas, tetapi justru hadir sebagai pelayan bagi masyarakat. Seorang pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu mendengarkan, memahami kebutuhan masyarakat, serta menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Safari Ramadhan yang mempertemukan pemimpin dengan masyarakat di ruang-ruang sederhana mencerminkan semangat tersebut.

Ketika gubernur dan para pejabat duduk bersama warga, berbuka puasa dengan menu sederhana, atau sahur di rumah masyarakat miskin, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan.

Kedua, pendekatan ini juga sejalan dengan konsep transformational leadership yang dikembangkan oleh James MacGregor Burns dan kemudian diperdalam oleh Bernard M. Bass.

Dalam teori ini, pemimpin tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menginspirasi perubahan nilai dan perilaku organisasi.

Melalui Safari Ramadhan, gubernur dan wakil gubernur tidak sekadar menjalankan kegiatan protokoler, tetapi juga menanamkan nilai kepada para pejabat bahwa kepemimpinan harus dilandasi empati, kedekatan dengan masyarakat, dan kesadaran spiritual.

Nilai-nilai tersebut secara perlahan membentuk budaya birokrasi yang lebih humanis dan responsif terhadap kebutuhan rakyat.

Ketiga, pendekatan ini juga dapat dilihat dalam kerangka spiritual leadership, yaitu model kepemimpinan yang menempatkan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi etika kepemimpinan.

Dalam model ini, spiritualitas tidak dipahami secara sempit sebagai ritual keagamaan, tetapi sebagai sumber nilai yang membentuk integritas, kejujuran, dan tanggung jawab moral seorang pemimpin.

Kegiatan itikaf di masjid, shalat berjamaah, serta kebersamaan spiritual antara pemimpin dan masyarakat menciptakan ruang refleksi bagi para pejabat.

Dalam suasana Ramadhan yang penuh ketenangan, mereka diingatkan bahwa jabatan bukanlah sekadar posisi administratif, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Pengalaman sahur di rumah warga miskin juga memiliki makna pembelajaran yang kuat. Di ruang sederhana itulah pejabat dapat melihat secara langsung realitas kehidupan masyarakat. Mereka menyaksikan bagaimana keluarga-keluarga sederhana menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran dan keteguhan.

Pengalaman empatik seperti ini sering kali lebih efektif dalam membangun kesadaran sosial dibandingkan laporan statistik atau dokumen kebijakan. Ia menghadirkan pengalaman nyata yang menumbuhkan rasa tanggung jawab moral dalam diri seorang pemimpin.

Program bedah rumah bagi masyarakat miskin yang menjadi bagian dari Safari Ramadhan juga memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada simbol-simbol moral.

Kepemimpinan yang baik harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Di sisi lain, dialog antara pemerintah dan masyarakat yang dilakukan setelah tarawih atau dalam pertemuan informal juga menjadi bagian penting dari pendekatan ini.

Dalam suasana yang lebih santai dan egaliter, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Pemerintah pun dapat mendengar suara rakyat tanpa sekat-sekat birokrasi yang kaku.

Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan Safari Ramadhan ini tidak mengurangi semangat kerja para pejabat pada siang hari. Tugas-tugas pemerintahan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Justru pengalaman spiritual yang diperoleh pada malam hari sering menjadi sumber energi moral yang memperkuat komitmen kerja mereka.

Pendekatan kepemimpinan seperti ini juga sejalan dengan nilai-nilai budaya Minangkabau yang memadukan adat dan agama. Dalam falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan administratif, tetapi juga dari keteladanan moral dan kedekatan dengan masyarakat.

Melalui Safari Ramadhan, nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan dalam pidato atau dokumen kebijakan, tetapi dipraktikkan secara langsung oleh pemimpin dan diwariskan kepada para pejabat di lingkungan pemerintahan.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan publik tidak hanya membutuhkan kecakapan teknokratis, tetapi juga kekuatan moral dan spiritual.

Pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan memiliki kedalaman spiritual biasanya lebih mampu menjaga integritas, empati, dan orientasi pelayanan.

Safari Ramadhan dengan demikian tidak sekadar menjadi agenda rutin pemerintah daerah. Ia merupakan proses pembelajaran kepemimpinan yang hidup—sebuah ruang retret ruhiyah yang mempertemukan pemimpin dengan masyarakat, memperkuat empati sosial, dan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang berakar pada pelayanan, keteladanan, dan tanggung jawab moral.

Dalam suasana Ramadhan yang penuh keberkahan, dan momentum satu tahun kepemimpinan Mahyeldi-Vasko untuk Sumatera Barat menemukan maknanya yang paling hakiki: hadir di tengah masyarakat, mendengarkan suara mereka, serta menjadikan pelayanan kepada rakyat sebagai bagian dari ibadah. []

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....