Tradisi Mancaliak Anak, Kasih Sayang Bako Budaya Minangkabau
- 10 Feb 2026 08:45 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Di tengah masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, hubungan antara anak dan keluarga pihak ayah atau bako tetap terjalin erat melalui tradisi Mancaliak Anak. Tradisi adat ini masih lestari hingga kini di Padang Pariaman dan sekitarnya sebagai wujud kasih sayang, pengakuan, serta tanggung jawab keluarga ayah terhadap anak pisang.
Secara harfiah, mancaliak berarti melihat. Dalam konteks adat Minangkabau, Mancaliak Anak merupakan kunjungan resmi keluarga bako untuk melihat bayi yang baru lahir, biasanya ketika berusia sekitar 40 hari. Kunjungan ini menjadi simbol penerimaan dan perhatian keluarga ayah kepada anak dari saudara laki-laki mereka.
Dalam prosesi Mancaliak Anak, keluarga bako datang ke rumah ibu bayi dengan membawa berbagai hantaran sebagai bentuk dukungan moral dan material. Hantaran tersebut antara lain berupa beras, pisang, ternak, makanan adat seperti nasi kuning, lamang, atau lamang tapai, serta perlengkapan bayi. Di beberapa daerah, keluarga bako juga menanam pohon kelapa sebagai simbol tanggung jawab dan harapan bagi masa depan sang anak.
Puncak prosesi ditandai dengan pemberian perhiasan emas kepada bayi, baik berupa cincin, gelang, maupun kalung. Pemberian ini menjadi lambang kasih sayang, doa, serta pengakuan bako terhadap anak pisang sebagai bagian dari keluarga besar.
Tradisi Mancaliak Anak tidak hanya bermakna adat, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Kegiatan ini mempererat hubungan kekerabatan antara keluarga pihak ayah dan ibu, serta menjadi sarana silaturahmi antar anggota keluarga besar. Doa bersama yang mengiringi prosesi juga menjadi ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak.
Melalui tradisi ini, masyarakat Minangkabau menegaskan bahwa meskipun garis keturunan mengikuti pihak ibu, peran ayah dan keluarganya tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan anak sejak lahir. Mancaliak Anak menjadi bukti bahwa kasih sayang dan tanggung jawab keluarga ayah diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sosial dan adat.
Di era modern, pelaksanaan Mancaliak Anak dapat berlangsung lebih sederhana. Namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap terjaga, yakni kebersamaan, kepedulian, dan penghormatan terhadap ikatan keluarga. Tradisi ini menjadi salah satu kearifan lokal Minangkabau yang terus dipertahankan sebagai identitas budaya masyarakat Padang Pariaman.(ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....