Bukan Hanya Kerak Telor, Ini Kuliner Betawi yang Perlu Diselamatkan
- 14 Sep 2026 09:43 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Jakarta dikenal sebagai kota modern dengan pilihan makanan yang sangat beragam, tetapi di balik perkembangan tersebut terdapat kekayaan kuliner Betawi yang menjadi bagian dari sejarah masyarakatnya. Sayangnya, beberapa makanan tradisional Betawi kini semakin sulit ditemukan dan hanya muncul pada kesempatan tertentu.
Salah satu yang cukup terkenal tetapi mulai langka adalah Sayur Babanci. Hidangan ini menggunakan daging sapi atau kerbau, kelapa muda, petai, dan kuah santan dengan racikan rempah yang menghasilkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan sedikit asam.
Ada pula Gabus Pucung, olahan ikan gabus dengan kuah berwarna hitam yang berasal dari penggunaan kluwek. Rasanya yang khas membuat makanan ini memiliki karakter tersendiri, tetapi jumlah penjual dan ketersediaan bahan membuatnya tidak semudah menemukan makanan Betawi yang lebih populer.
Kuliner lain yang mulai jarang ditemui adalah Bubur Ase, yaitu bubur nasi yang disajikan bersama kuah semur dan berbagai pelengkap seperti kentang, teri, kacang, serta asinan. Hidangan ini dahulu menjadi bagian dari kuliner masyarakat Betawi, tetapi kini semakin sedikit penjual yang menyediakannya.
Ada juga Kue Dongkal, jajanan yang dibuat dari beras yang ditumbuk, kemudian dipadukan dengan gula aren dan kelapa sebelum dikukus. Tekstur lembut, rasa manis, dan aroma khas menjadi daya tariknya, tetapi jajanan seperti ini semakin tersisih oleh makanan modern.
Salah satu persoalan utama dalam mempertahankan kuliner Betawi adalah sulitnya mendapatkan beberapa bahan tradisional. Proses memasak yang cukup panjang dan semakin sedikitnya pembuat juga membuat makanan tersebut tidak lagi menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga.
Padahal, kuliner merupakan salah satu cara paling mudah untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Ketika seseorang mencicipi sebuah makanan tradisional, ia tidak hanya mengenal rasa, tetapi juga dapat mengetahui cerita mengenai masyarakat yang menciptakannya.
Media sosial dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kembali kuliner Betawi. Video memasak, cerita dari pembuat makanan, dan dokumentasi makanan tradisional dapat membuat kuliner yang sebelumnya hanya dikenal generasi tua kembali mendapat perhatian generasi muda.
Pelestarian juga membutuhkan dukungan keluarga, komunitas budaya, pelaku UMKM, dan pemerintah. Semakin sering makanan tersebut diperkenalkan, dijual, dan dinikmati, semakin besar pula peluangnya untuk tetap hidup di tengah perubahan Jakarta.
Pada akhirnya, menjaga kuliner Betawi berarti menjaga bagian dari identitas kota Jakarta. Sebelum sayur babanci, gabus pucung, bubur ase, dan kue dongkal benar-benar hanya menjadi cerita masa lalu, sudah saatnya makanan tersebut kembali dikenalkan dan dinikmati. (DEP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....