Kabut Asap Mengganggu Pernapasan, Ini Cara Menjaga Kesehatan

  • 22 Sep 2026 07:24 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kabut asap dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan, jika paparan berlangsung terus-menerus.

Kementerian Kesehatan menyebut partikel PM2,5 dalam asap dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru. “Banyak partikel-partikel PM2.5 ... sangat mengganggu paru-paru kita,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Paparan kabut asap dapat menyebabkan iritasi mata, tenggorokan gatal, batuk, hingga sesak napas. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk penyakit paru kronis dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut.

Untuk mengurangi paparan, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menganjurkan mengurangi aktivitas fisik berat saat polusi udara tinggi.

Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang terpasang rapat. WHO menyebut respirator seperti N95 atau FFP2 dapat menyaring partikel halus apabila digunakan dengan tepat.

Masyarakat juga perlu memantau kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar ruangan. Kementerian Kesehatan mengimbau warga rutin memeriksa indeks kualitas udara melalui berbagai aplikasi resmi.

Saat kabut asap pekat, aktivitas di dalam ruangan dapat menjadi pilihan untuk mengurangi paparan polusi. WHO menyarankan tetap berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup ketika polusi asap tinggi.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian lebih. Mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Masyarakat juga dianjurkan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk mengonsumsi makanan bergizi dan cukup beristirahat. Kementerian Kesehatan turut mengingatkan masyarakat untuk tidak merokok selama kondisi udara sedang buruk.

Jika muncul sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat, segera mencari pertolongan medis. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tidak menyepelekan gejala tersebut agar kondisi tidak semakin memburuk. (APS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....