sebelum Tubuh Meminta Tolong

  • 27 Agt 2026 18:43 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi – Herlina Basir terbiasa menganggap sakit kepala sebagai tanda tubuh kelelahan. Istirahat sebentar, keluhan mereda, lalu aktivitas kembali berjalan seperti biasa.

Ia tidak merasa sedang sakit, bahkan ketika pemeriksaan di Posyandu menunjukkan tekanan darahnya tinggi. Herlina belum merasa ada sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan.

“Sering sakit kepala. Ya pikir Ibu, itu mungkin kecapekan,” ujar Herlina pada Sabtu (22/08/2026) sebelum senam rutin bersama di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi.

Herlina memang sudah mengetahui bahwa dirinya mengalami hipertensi. Namun, mengetahui tekanan darah tinggi belum serta-merta membuatnya memahami apa yang terjadi. Tubuhnya sebenarnya telah memberi rambu-rambu yang perlu didengarkan.

Ia pun belum terdorong untuk memeriksakan kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Kesempatan itu kemudian datang melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG).

CKG membuat Herlina melihat kondisi tubuhnya dengan cara yang berbeda. Baginya, CKG merupakan salah satu anugerah dari Yang Maha Kuasa untuk lebih mengenali kondisi kesehatannya.

“Meskipun ibu sebenarnya sudah tahu kalau ibu hipertensi, Ibu mau lebih tahu, apa lagi yang terjadi pada tubuh ibu selain darah tinggi,” tuturnya.

Dengan harapan dan kecemasan yang berkelindan, Herlina menunggu hasil CKG di Puskesmas Rasimah Ahmad. Kemungkinan ditemukannya penyakit lain membuat pikirannya dipenuhi berbagai dugaan hingga hasil pemeriksaan keluar.

Setelah hasil keluar, kekhawatiran itu sedikit mereda. Dokter menjelaskan kondisi kesehatannya sekaligus memberi tahu apa yang perlu dikurangi dan apa yang perlu diperbanyak dalam kesehariannya.

“Syukurlah tidak ada penyakit lain, hanya hipertensi saja, tapi Ibu tetap harus waspada agar tidak terjadi komplikasi nantinya. Harus merubah pola hidup sehat seperti kata dokter di sini,” terangnya dengan semangat.

Apa yang dialami Herlina bukan hal yang jarang ditemukan. Dokter Puskesmas Rasimah Ahmad, dr. Netrawati, menyebut hipertensi kerap datang tanpa gejala sehingga seseorang bisa merasa baik-baik saja meski tekanan darahnya sudah tinggi. Kondisi inilah yang membuat pemeriksaan sejak dini menjadi penting.

Dokter Puskesmas Rasimah Ahmad, dr. Netrawati (Foto: Dokumentasi RRI Bukittinggi)

Melalui program “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati”, masyarakat didorong untuk mengenali kondisi kesehatannya lebih awal dan mendapatkan penanganan bila ditemukan masalah kesehatan.

“Hipertensi silent killer istilahnya, enggak ada gejala. Pas dicek ternyata tinggi tensinya. Banyak pasien seperti itu datang, aman-aman saja. Pas digali riwayat keluarganya, ada. Untuk itu program CKG ada manfaatnya, bagus kegiatannya,” terangnya.

dr. Netrawati menegaskan, kesadaran masyarakat untuk mengikuti CKG menjadi langkah awal untuk menemukan dan menangani penyakit tertentu. Menurutnya, menjaga kesehatan diri juga merupakan bentuk kasih sayang kepada keluarga.

Setelah mengikuti anjuran dokter, termasuk mengonsumsi obat tekanan darah, tekanan darah Herlina yang sebelumnya pernah mencapai 160/85 mmHg kini berada di angka 130/76 mmHg.

“Setelah minum obat dan rutin kontrol sekali 6 bulan, dulunya tensi tinggi kini turun menjadi 130/76 mmHg,” jelasnya tersenyum.

Perubahan itu tidak hanya terlihat dari angka tekanan darahnya. Herlina juga mengubah kebiasaan sehari-hari, mulai dari pola makan hingga aktivitas fisik.

“Paling berubah dari pola makan, terus aktivitas fisik, Ibu jalan 30 menit sehari, enggak pernah kelewat, olahraga juga setiap Sabtu di Puskesmas, semuanya dirubah,” ujarnya.

Mengubah kebiasaan memang tidak selalu mudah. Namun, dukungan orang-orang terdekat membuat perubahan itu terasa lebih ringan.

“Orang rumah sebelumnya bertanya, kenapa masakan hambar? Setelah dijelaskan, baru mereka paham. Bahkan semuanya di rumah termasuk anak, menantu, suami jadi ikut CKG juga, jadi sekarang kami sama-sama menjaga,” tukasnya penuh semangat.

Pengalaman itu tidak berhenti di dalam rumah. Herlina juga mulai mengajak karib kerabatnya mengikuti CKG seperti dirinya. Baginya, mengetahui kondisi kesehatan lebih awal memberi kesempatan untuk melakukan pencegahan sebelum penyakit berkembang.

Namun, ajakannya tidak selalu mendapat respons yang sama. Ada yang bersedia, tetapi ada pula yang masih takut mengetahui hasil pemeriksaan.

“Tapi kadang kalau kawan Ibu, dia enggak mau. Kadang pemahaman orang yang beda, kan. Orang tuh berpikir terlalu banyak makan obat nanti ginjalnya yang kena. Padahal menurut dokter, justru karena minum obat dan kontrol, ginjal kita bisa terselamatkan,” terangnya.

Bagi Herlina, mengetahui lebih awal membuatnya punya kesempatan untuk berubah. Sebab menjaga kesehatan mungkin bukan tentang menunggu tubuh meminta tolong, melainkan belajar mendengarkan sebelum suara itu terdengar keras.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....