Kesehatan Gigi, "Teknik 'Merah Putih', dan Keseimbangan Fluorida"
- 06 Jul 2026 10:15 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Banyak masyarakat mengeluhkan kondisi gigi yang terasa ngilu meskipun telah rutin menyikatnya setiap hari. Ternyata, kesalahan fatal sering kali terletak pada arah gerakan menyikat serta pemilihan jenis bulu sikat gigi yang keliru.
Tidak hanya faktor mekanis, perlindungan kimiawi melalui penggunaan zat fluorida (fluoride) pada anak juga harus berada dalam takaran yang seimbang.
Hal tersebut dikupas tuntas dalam program Pro 1 Generasi Sehat yang disiarkan melalui kanal YouTube RRI Bukittinggi. Menghadirkan narasumber Budi Lesmana Makhyar, AMKG, seorang terapis gigi dan mulut dari Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi.
| Baca juga: Inilah Berbagai Manfaat Daging Kelinci |
Budi Lesmana Makhyar menjelaskan, gerakan menyikat gigi secara horizontal atau maju-mundur pada bagian samping justru dapat merusak pelindung gigi.
"Gerakan menyikat gigi yang salah secara horizontal dapat menyebabkan abrasi gigi, yaitu terkikisnya lapisan gigi pada bagian leher gigi yang berbatasan dengan gusi. Kondisi inilah yang memicu rasa ngilu yang mengganggu," ujar Budi saat berdialog di studio RRI Bukittinggi.
Sebagai solusinya, Budi memperkenalkan teknik menyikat gigi dengan filosofi "Merah Putih". Istilah ini merujuk pada warna gusi (merah) dan gigi (putih). Melalui teknik ini, arah gerakan menyikat harus dilakukan secara vertikal dari arah gusi ke gigi.
Untuk rahang atas, gerakan dilakukan dari atas ke bawah, sedangkan untuk rahang bawah dilakukan dari bawah ke atas dengan kemiringan sikat 45 derajat. Sementara itu, gerakan maju-mundur hanya diperbolehkan khusus pada dataran pengunyah atau gigi geraham.

Selain faktor teknik, kesalahan umum lainnya di masyarakat adalah kebiasaan memilih sikat gigi berbulu keras (hard) dengan asumsi dapat membersihkan lebih cepat. Budi menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya memilih sikat gigi berbulu lembut (soft), memiliki ujung kepala kecil agar dapat menjangkau sudut terdalam, serta mempunyai tangkai yang lurus.
Di samping aspek mekanis, Budi juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan kadar fluorida pada gigi, terutama bagi anak-anak pada usia produktif sekolah. Penggunaan fluorida pada pasta gigi telah lama dikenal manfaatnya untuk mencegah karies. Namun, layaknya sebuah koin dengan dua sisi, kekurangan maupun kelebihan zat ini sama-sama membawa dampak buruk bagi kesehatan biologis anak.
Dampak pertama adalah defisiensi atau kekurangan fluorida. Kondisi ini menyebabkan lapisan enamel gigi menjadi rapuh dan sangat rentan terhadap serangan asam dari bakteri yang memproses sisa makanan. Akibatnya, gigi anak akan berlubang dengan sangat cepat hingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat.
"Gigi adalah gerbang utama sistem pencernaan tubuh. Ketika anak mengalami nyeri gigi akibat karies yang dipicu kekurangan pelindung, nafsu makan mereka akan menurun drastis. Hal ini berdampak domino pada berkurangnya asupan nutrisi yang memicu penurunan berat badan anak," urai Budi menjelaskan.
Sebaliknya, kelebihan kadar fluorida atau yang secara medis disebut fluorosis juga menimbulkan masalah serius. Pada tingkat ringan, kelebihan fluorida memicu munculnya bercak-bercak putih (white spot) pada permukaan gigi sehingga mengganggu estetika. Kondisi ini biasanya terjadi karena anak-anak sering tidak sengaja menelan pasta gigi saat menyikat gigi.
Jika paparan kelebihan fluorida berlangsung secara berkepanjangan dan masuk dalam kategori berat, warna gigi akan berubah menjadi kusam, menguning, hingga muncul bercak cokelat kehitaman. Dalam istilah lokal Minang, kondisi gigi yang rusak, kusam, dan rapuh menyerupai kapur ini sering disebut dengan istilah tikwa atau harampan. Pada fase berat ini, struktur gigi justru menjadi rapuh dan mudah patah.
Oleh karena itu, pengawasan orang tua saat anak menyikat gigi menggunakan pasta gigi berfluorida sangatlah krusial agar formula tersebut tidak ditelan. Di akhir dialog, Budi mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kebersihan lidah karena sisa makanan yang menempel di lidah sering menjadi penyebab utama bau mulut.
Masyarakat direkomendasikan untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari, dengan waktu paling krusial adalah pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. (NAS/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....