Empat Pesan Rektor UIN Bukittinggi untuk 1.723 Wisudawan

  • 17 Sep 2026 07:15 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Kubang Putiah - Wisuda bukan sekadar seremoni untuk menandai berakhirnya perjalanan akademik di bangku perguruan tinggi. Di balik toga, ijazah dan prosesi pengukuhan, tersimpan tanggung jawab baru yang harus dijalankan setiap lulusan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Pesan itulah yang disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Hj. Silfia Hanani,S.Ag.M.Si, kepada para wisudawan pada prosesi wisuda hari kedua, Kamis (17/9/2026).

Sebagai seorang alumni, Silfia Hanani menitipkan empat kata yang menurutnya harus menjadi bekal penting bagi para lulusan dalam menapaki kehidupan setelah meninggalkan kampus.

Empat kata tersebut adalah ilmu, integritas, kepedulian dan kebermanfaatan.

Pesan itu disampaikan bukan sekadar sebagai nasihat akademik, melainkan sebagai refleksi tentang bagaimana ilmu yang diperoleh selama bertahun-tahun di kampus seharusnya diwujudkan dalam kehidupan nyata.

“Sebagai alumni saya ingin menitipkan empat kata: ilmu, integritas, kepedulian, kebermanfaatan,” ujar Silfia Hanani dalam sambutannya.

Menurut Silfia, ilmu merupakan modal utama yang harus dibawa para lulusan. Pendidikan yang ditempuh selama berada di UIN Bukittinggi diharapkan mampu memberikan kemampuan, wawasan dan keahlian yang dapat digunakan untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.

Namun, ilmu saja tidak cukup.

Kemampuan yang dimiliki seseorang, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan integritas. Sebab, kemampuan tanpa integritas dapat kehilangan arah dan bahkan berpotensi disalahgunakan.

“Ilmu, agar Saudara memiliki kemampuan. Kemudian integritas, agar kemampuan itu tidak disalahgunakan,” tuturnya.

Pesan berikutnya adalah kepedulian.

Silfia mengingatkan para lulusan agar keberhasilan yang diraih tidak membuat mereka hanya berorientasi pada kepentingan pribadi. Pendidikan tinggi harus melahirkan manusia yang memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan persoalan masyarakat.

Sementara kata terakhir yang dititipkan adalah kebermanfaatan.

Menurut Silfia, ilmu dan kemampuan yang dimiliki lulusan pada akhirnya harus memberikan dampak positif bagi orang lain.

“Kepedulian, agar Saudara tidak hidup hanya untuk diri sendiri. Dan kebermanfaatan, agar kehadiran Saudara benar-benar dirasakan oleh orang lain,” katanya.

Pesan tersebut kemudian dipertegas Silfia melalui sebuah prinsip sederhana yang diharapkan menjadi pegangan para wisudawan dalam menjalani kehidupan.

“Hidup bukan hanya tentang menjadi seseorang, tetapi tentang menjadi berarti bagi seseorang,” katanya.

Bukan Akhir, tetapi Awal Pengabdian

Bagi para wisudawan, prosesi pengukuhan memang menjadi penanda berakhirnya masa perkuliahan. Namun, bagi Rektor UIN Bukittinggi, wisuda justru merupakan pintu masuk menuju perjalanan yang lebih luas.

Silfia menegaskan, berakhirnya masa studi tidak berarti hubungan lulusan dengan almamater ikut berakhir.

Para wisudawan memang akan meninggalkan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan dan berbagai aktivitas akademik yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Namun, nama UIN Bukittinggi akan tetap melekat dalam perjalanan hidup setiap lulusan.

“Hari ini Saudara meninggalkan ruang-ruang kelas UIN Bukittinggi. Namun secara hakikat Saudara tidak pernah benar-benar meninggalkan almamater,” ujarnya.

Menurutnya, lulusan akan membawa nama UIN Bukittinggi ke berbagai ruang kehidupan. Sebaliknya, perjalanan dan kiprah para alumni juga akan menjadi bagian dari sejarah perkembangan kampus.

“Nama UIN Bukittinggi akan Saudara bawa dalam perjalanan hidup. Dan sebaliknya, nama Saudara juga akan menjadi bagian dari sejarah UIN Bukittinggi,” lanjut Silfia.

Karena itu, ia berpesan agar para lulusan mampu menjadi duta kebaikan almamater di mana pun mereka berada.

Lulusan UIN Bukittinggi tidak hanya diharapkan mampu menunjukkan kemampuan akademik, tetapi juga memperlihatkan karakter, akhlak dan profesionalisme yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan yang telah diperoleh selama berada di kampus.

Silfia berharap para alumni dapat membuktikan bahwa pendidikan tinggi Islam mampu melahirkan sumber daya manusia yang terbuka terhadap perkembangan dunia, namun tetap memiliki pijakan nilai keislaman yang kuat.

“Buktikan bahwa lulusan UIN Bukittinggi mampu menjadi insan yang berilmu, beradab, profesional, terbuka terhadap dunia, kuat dalam nilai keislaman, dan hadir memberi solusi bagi masyarakat,” katanya.

1.723 Wisudawan, Dua Hari Penuh Makna

Wisuda UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi tahun 2026 dilaksanakan selama dua hari, yakni pada 16 dan 17 September 2026.

Secara keseluruhan, sebanyak 1.723 mahasiswa dikukuhkan sebagai lulusan.

Pada hari pertama, Rabu (16/9/2026), sebanyak 840 mahasiswa mengikuti prosesi wisuda.

Mereka berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) sebanyak 477 orang, Fakultas Syariah 278 orang, serta Program Pascasarjana sebanyak 67 orang.

Sementara pada hari kedua, Kamis (17/9/2026), sebanyak 883 mahasiswa mengikuti prosesi wisuda.

Jumlah tersebut terdiri dari 748 lulusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) serta 135 lulusan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD).

Jika dilihat berdasarkan jenjang pendidikan, lulusan yang dikukuhkan terdiri atas 1.578 lulusan program sarjana atau S1, 137 lulusan S2, dan 8 lulusan S3.

Angka tersebut sekaligus menggambarkan besarnya kontribusi UIN Bukittinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi keagamaan Islam, sekaligus memperluas akses keilmuan pada berbagai bidang.

Enam Fakultas, Keilmuan Semakin Beragam

Momentum wisuda tahun ini juga berlangsung di tengah perkembangan UIN Bukittinggi yang terus melakukan penguatan kelembagaan dan memperluas bidang keilmuan.

Salah satu perkembangan penting terjadi pada 2026 dengan hadirnya Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) yang diresmikan Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar.

Dengan hadirnya fakultas tersebut, UIN Bukittinggi kini memiliki enam fakultas.

Pengembangan ini memperlihatkan arah kampus yang tidak hanya berfokus pada bidang keilmuan keislaman, tetapi juga memberikan ruang lebih luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saat ini UIN Bukittinggi memiliki 26 program studi jenjang S1, 8 program studi S2 dan 4 program studi S3.

Ragam program studi tersebut mencakup bidang keilmuan agama maupun umum, sehingga mahasiswa memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan zaman.

Membuka Jalan ke Dunia Internasional

Perkembangan UIN Bukittinggi juga diarahkan pada penguatan jejaring dan kerja sama di tingkat nasional maupun internasional.

Kampus terus membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga lain, baik di dalam maupun luar negeri.

Salah satu bentuk kerja sama tersebut terlihat dari kepercayaan kepada UIN Bukittinggi untuk menjadi tempat magang bagi mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun ini.

Kerja sama lintas negara tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik sekaligus membuka peluang interaksi mahasiswa dan sivitas akademika dengan lingkungan pendidikan internasional.

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Dr. Silfia Hanani mengatakan, penguatan kualitas sumber daya manusia juga terus menjadi perhatian kampus, terutama bagi dosen dan tenaga kependidikan.

Para dosen didorong untuk terus mengembangkan kepakaran, meningkatkan aktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk membuka ruang lebih luas untuk aktivitas pada tingkat internasional.

UIN Bukittinggi juga memperkuat kolaborasi dengan para pakar dari luar negeri untuk memperluas jejaring sekaligus memperkuat kepakaran akademik yang dimiliki perguruan tinggi tersebut.

Mahasiswa Disiapkan Menembus Ruang yang Lebih Luas

Pengembangan kualitas tidak hanya ditujukan kepada dosen dan tenaga kependidikan.

Mahasiswa juga terus diberikan ruang untuk mendapatkan pengalaman di luar lingkungan kampus melalui berbagai program, mulai dari Kuliah Kerja Nyata atau KKN, Praktik Lapangan, penelitian hingga kegiatan pengabdian internasional.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di ruang akademik dengan persoalan nyata yang ada di masyarakat.

Dengan demikian, lulusan tidak hanya diharapkan menguasai teori, tetapi juga mampu beradaptasi, berkomunikasi, bekerja sama dan memberikan solusi ketika berada di tengah masyarakat.

Di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari perjalanan para lulusan.

Namun, perkembangan tersebut tetap harus disertai nilai yang menjadi fondasi.

Dan di situlah empat pesan Rektor UIN Bukittinggi kembali menemukan relevansinya: ilmu, integritas, kepedulian dan kebermanfaatan.

Ilmu menjadi bekal kemampuan.

Integritas menjadi penjaga agar kemampuan digunakan secara benar.

Kepedulian membuat lulusan tidak berjalan sendiri dan tetap peka terhadap persoalan di sekitarnya.

Sedangkan kebermanfaatan menjadi arah dari seluruh ilmu dan kemampuan yang telah diperoleh.

Membawa Nama Almamater ke Tengah Masyarakat

Setelah toga dilepas dan pintu kampus mulai ditinggalkan, para wisudawan akan memasuki ruang kehidupan yang sesungguhnya.

Ada yang melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, membangun usaha, mengabdi sebagai pendidik, bekerja di lembaga pemerintahan maupun swasta, atau mengambil peran di tengah masyarakat.

Jalur yang ditempuh bisa berbeda, tetapi pesan yang dititipkan almamater tetap sama: ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai gelar.

Bagi UIN Bukittinggi, keberhasilan seorang alumni bukan hanya ketika mampu mencapai posisi tertentu, tetapi juga ketika ilmu yang dimilikinya mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.

Karena itu, empat kata yang disampaikan Silfia Hanani dalam prosesi wisuda tersebut menjadi pesan yang melampaui seremoni.

Ilmu untuk memiliki kemampuan. Integritas untuk menjaga kemampuan. Kepedulian untuk melihat kehidupan orang lain. Dan kebermanfaatan untuk memastikan kehadiran benar-benar memiliki arti.

Sebanyak 1.723 wisudawan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi kini resmi memasuki babak baru kehidupan.

Mereka tidak lagi hanya membawa ijazah sebagai bukti kelulusan, tetapi juga membawa nama almamater, nilai-nilai keislaman, kompetensi akademik dan harapan agar ilmu yang diperoleh selama berada di kampus dapat memberi manfaat lebih luas.

Sebab, sebagaimana pesan Rektor UIN Bukittinggi, perjalanan setelah wisuda bukan semata-mata tentang menjadi seseorang, tetapi bagaimana kehadiran itu dapat menjadi berarti bagi orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....