Hari Aksara Internasional, "Meneguhkan Budaya Literasi"

  • 09 Sep 2026 07:44 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Setiap 8 September, dunia memperingati Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya kemampuan membaca dan menulis bagi kehidupan masyarakat.

Aksara tidak sekadar kemampuan mengenali huruf dan menyusun kata. Kemampuan literasi menjadi dasar bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan, memahami informasi, berkomunikasi, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Di era digital, makna literasi berkembang semakin luas. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu membaca dan menulis, tetapi juga memahami, mengolah, serta menyaring informasi yang diterima melalui berbagai media.

Kemampuan literasi menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi di internet. Berita palsu, informasi menyesatkan, dan berbagai konten tanpa sumber yang jelas dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu persoalan.

Karena itu, budaya membaca perlu terus dibangun sejak usia dini. Keluarga, sekolah, perpustakaan, komunitas, media, dan pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendorong masyarakat gemar membaca.

Bagi anak-anak, kebiasaan membaca dapat membuka kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Buku dan berbagai bahan bacaan juga dapat membantu mengembangkan imajinasi, kemampuan berpikir kritis, serta rasa ingin tahu.

Sementara itu, bagi masyarakat dewasa, kemampuan literasi dapat mendukung berbagai aktivitas kehidupan. Mulai dari memahami informasi kesehatan, mengelola keuangan, mengembangkan usaha, hingga memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam membangun budaya literasi. Ketersediaan bahan bacaan yang mudah diakses, kualitas pendidikan, kesenjangan digital, serta kebiasaan membaca masih menjadi hal yang perlu terus diperhatikan.

Peringatan Hari Aksara Internasional seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum ini dapat menjadi pengingat bahwa literasi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan dan berdaya.

Membangun budaya literasi juga tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Membaca beberapa halaman buku setiap hari, mengunjungi perpustakaan, berdiskusi, atau membiasakan memeriksa kebenaran informasi merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Pada akhirnya, aksara adalah pintu menuju pengetahuan, sedangkan literasi membantu manusia memahami dunia di sekitarnya. Dengan masyarakat yang semakin literat, diharapkan Indonesia mampu melahirkan generasi yang kritis, kreatif, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan zaman. (ZH/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....