Sosok Bung Hatta Menginspirasi Siswa SLTP Se-Bukittinggi "Manulih jo Bacarito"
- 01 Sep 2026 12:18 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Semangat mengenal sejarah dan meneladani perjuangan para pahlawan terus ditanamkan kepada generasi j7muda. Hal itu terlihat dalam kegiatan “Manulih Carito jo Bacarito” yang digelar di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, Kota Bukittinggi, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang diikuti siswa dan siswi SMP/MTs sederajat se-Kota Bukittinggi tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengenal lebih dekat sosok Mohammad Hatta, putra terbaik Minangkabau yang memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Albertiusman, saat membuka kegiatan mengatakan, keberadaan Bung Hatta merupakan bagian penting dari sejarah bangsa yang patut terus dikenalkan kepada generasi muda.

Menurutnya, Bung Hatta bukan hanya tokoh nasional, tetapi juga sosok yang memiliki kedekatan kuat dengan Kota Bukittinggi dan masyarakat Minangkabau.
“Kita tahu bahwa Bung Hatta adalah orang Bukittinggi. Beliau sangat berpengaruh dan memberikan kontribusi besar dalam perjuangan bangsa,” ujarnya.
Ia menilai, kegiatan “Manulih Carito jo Bacarito” memiliki nilai penting karena para siswa tidak sekadar mendengar cerita tentang Bung Hatta dari buku, tetapi juga diajak datang langsung ke rumah kelahiran sang proklamator.
Di tempat bersejarah tersebut, para siswa diberikan kesempatan untuk melihat berbagai referensi, dokumen, serta peninggalan yang berkaitan dengan kehidupan Bung Hatta.

“Anak-anak bisa melihat secara langsung sosok Bung Hatta sesungguhnya. Mereka diberikan referensi, melihat dokumen-dokumen yang ada, kemudian mengeksplorasi, mengkaji dan memperhatikan apa yang mereka temukan,” jelas Albertiusman.
Menariknya, hasil pengamatan tersebut kemudian dituangkan kembali oleh para siswa melalui tulisan dan cerita menggunakan bahasa Minang.
Bagi Albertiusman, kemampuan menulis dan bercerita menjadi dua kekuatan penting untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai sejarah kepada masyarakat luas dari sudut pandang generasi muda.
“Kita melatih mereka untuk menulis. Menulis dan bercerita ini bisa menjadi mercusuar untuk menyebarluaskan, bahkan mengamplifikasi informasi yang mereka dapatkan dari sudut pandang mereka sebagai anak-anak sekolah,” katanya.
Tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas, keberanian berbicara, sekaligus kecintaan siswa terhadap sejarah dan budaya daerah.
Didampingi Kabid Kebudayaan Hendra Aspratama dan Pamong Budaya Beta Ayu Listiyorini, Albertiusman menyampaikan bahwa kegiatan lomba tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong siswa agar semakin mengenal, dekat dan terinspirasi oleh keteladanan Bung Hatta.
Para peserta nantinya akan menceritakan kembali apa yang mereka lihat, pahami dan teladani dari sosok Bung Hatta. Mereka diharapkan tidak hanya mengenal Bung Hatta sebagai tokoh sejarah, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai kehidupan yang diwariskannya.
Salah satu nilai yang ditekankan adalah kejujuran, selain semangat belajar, kesederhanaan, kedisiplinan dan pengabdian kepada bangsa.
“Harapannya mereka semakin dekat dan semakin kenal dengan sosok Bung Hatta, sehingga Bung Hatta bisa menjadi inspirasi bagi mereka untuk berprestasi, termasuk dalam menanamkan nilai kejujuran,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga menjadi ajang pembinaan berjenjang. Para peserta terbaik nantinya akan dikirim mengikuti tahapan lomba mulai dari tingkat kota hingga tingkat provinsi.
Dengan demikian, kemampuan siswa dalam menulis dan bertutur tidak berhenti di ruang perlombaan, tetapi diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah dan memperkenalkan keteladanan Bung Hatta kepada generasi berikutnya.
Pantun Jadi Ruang Kreativitas Generasi Muda
Semangat melestarikan bahasa dan budaya Minangkabau berlanjut pada Rabu (2/9/2026). Di tempat yang sama, para pelajar akan mengikuti lomba “Manulih jo Mambaco Pantun”.
Lomba tersebut menjadi momentum untuk menggali kreativitas siswa melalui sastra lisan dan tulisan khas Minangkabau.
Melalui rangkaian kegiatan ini, para siswa tidak hanya diajak menjadi generasi yang mengenal sejarah, tetapi juga generasi yang mampu menulis, bercerita, membaca pantun, mencintai budaya, serta mengambil keteladanan dari tokoh bangsa.
Dari Rumah Kelahiran Bung Hatta, pesan itu kembali digaungkan: sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dipelajari, diceritakan dan dijadikan inspirasi dalam melangkah menuju masa depan. (JM/RRI BKT)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....