Merawat Asa Pendidikan Melalui Humas Sepanjang Masa
- 02 Jul 2026 07:49 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Kab Agam - Kabut duka sedang menggelayuti dunia pendidikan tinggi kita. Angka statistik menyajikan ironi yang getir ketika sekitar 60 ribu anak muda yang dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di berbagai Perguruan Tinggi Umum (PTU) memilih mundur teratur. Mereka membuang tiket emas itu bukan karena malas, melainkan karena rontoknya daya beli di hadapan tembok tinggi bernama liberalisasi pendidikan.
Ketika biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) melambung ke langit dan jalur mandiri mencekik leher, kuliah tidak lagi menjadi eskalator sosial, melainkan barang mewah yang hanya bisa diakses oleh elite tebal dompet.

Namun, di tengah pekatnya komersialisasi tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi hadir menawarkan arah baru. Kampus ini berdiri kokoh sebagai oase di tengah biaya pendidikan yang melangit. Memadukan integrasi sains dan ajaran Islam, UIN Bukittinggi membuktikan wacana tandingan bahwa mutu akademik Universitas Unggul tidak harus ditebus dengan harga yang memeras kantong rakyat.

Komitmen Mutu di Tengah Arus Pasar
Saat ini, UIN Bukittinggi telah kokoh menyandang Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Hebatnya, jaminan mutu berstandar tertinggi ini tidak hanya milik program studi keagamaan tradisional, melainkan meluas ke rumpun ilmu modern, sosial, hingga humaniora.
Keberhasilan ini berakar pada formulasi struktur biaya kuliah yang berkeadilan melalui skema UKT bersubsidi silang yang humanis. Kampus ini menjadi pelindung mimpi anak bangsa dari berbagai latar belakang ekonomi agar tetap hidup.
Namun, bagaimana mutiara dari oase ini bisa dikenal dan menyentuh akar rumput di tengah masyarakat? Jawabannya ada pada pundak setiap elemen di dalamnya. Misi kehumasan bukan lagi sekadar tugas struktural pejabat kehumasan, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh civitas akademika.
Ikhtiar Kolektif Civitas Akademika
Strategi promosi perguruan tinggi yang paling memikat tidak lagi bertumpu pada megahnya baliho di jalan raya, melainkan terpancar lewat aksi nyata mahasiswanya di tengah masyarakat. UIN Bukittinggi secara konsisten menjadikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Magang, dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai pilar misi kehumasan sepanjang masa.
"Mahasiswa bergerak aktif sebagai representasi sekaligus 'wajah' dinamis kampus yang langsung menyentuh masyarakat bawah," ujar Dr. Irwandi, anggota Badan Pelaksana (BP) KKN UIN Bukittinggi kepada RRI, Kamis (2/7/2026).
Aksi nyata tersebut salah satunya tergambar jelas di Nagari Malalak Utara, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam. Di sana, mahasiswa KKN tidak sekadar menjalankan program kerja seremonial. Mereka mengemban misi besar merekatkan citra positif universitas ke hati warga.
Irwandi menegaskan bahwa efektivitas misi kehumasan ini sangat bergantung pada kesiapan kapasitas mahasiswa itu sendiri. Agar pesan mulia kampus tersampaikan dengan optimal, mahasiswa wajib dibekali dengan dua modal utama:
- Komunikasi Empatik: Kemampuan membaur secara tulus, mendengarkan denyut nadi kebutuhan warga, dan menyampaikan informasi secara persuasif dari hati ke hati.
- Penguasaan Product Knowledge: Pemahaman mendalam terkait keunggulan program studi, fasilitas, ketersediaan beasiswa, hingga jalur penerimaan mahasiswa baru.
Menanam Akar di Hati Rakyat
Kombinasi kedua kemampuan tersebut terbukti menjadi kunci sukses di lapangan. "Saat mahasiswa mengedukasi para orang tua dan generasi muda di pelosok nagari, mereka tidak sedang berjualan komoditas, melainkan sedang membawa kabar gembira bahwa pendidikan tinggi yang bermutu tinggi masih bisa diakses secara berkeadilan, " ujar Fajri Ahmad, M.Sos., yang juga menjadi anggota BP KKN UIN Bukittinggi tahun 2026.
Rektor UIN Bukittinggi,Prof.Silfia Hanani, menegaskan lewat sinergi KKN di desa, profesionalisme saat Magang di instansi, serta inspirasi yang ditebar para dosen dan mahasiswa selama PPL di sekolah, promosi UIN Bukittinggi ditargetkan tumbuh secara organik. "Promosi kampus tidak bersifat musiman atau bergantung pada anggaran iklan yang besar, melainkan melekat sepanjang masa di hati masyarakat, " tegasnya.
Ketika banyak kampus lain perlahan limbung oleh logika pasar bebas, UIN Bukittinggi memilih bertahan menjadi oase spiritual dan intelektual. Melalui tanggung jawab kehumasan yang diemban bersama oleh seluruh civitas akademik dari rektor hingga mahasiswa di pelosok desa kampus ini sedang merebut kembali ruh pendidikan nasional dari tangan pasar, kembali ke tangan rakyat.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....