Menakar Relevansi Bahasa Arab di Era Kecerdasan Buatan
- 14 Mei 2026 20:50 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID ,Bukittinggi - Masa depan penelitian bahasa Arab di Indonesia tengah memasuki babak baru. Tidak lagi sekadar berkutat pada urusan tata bahasa (nahwu-sharaf) yang kaku, arah riset kini mulai bergeser ke arah integrasi teknologi dan hibriditas bahasa guna menjawab tantangan global.
Semangat transformasi ini mengemuka dalam Studium General yang digelar Program Magister Pendidikan Bahasa Arab (MPBA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Selasa (12/5). Pertemuan akademik ini menjadi ruang refleksi bagi hampir 100 mahasiswa dan dosen untuk melihat sejauh mana bahasa agama ini mampu beradaptasi di era digital.

Hibriditas: Jembatan Turats dan Realitas
Membuka cakrawala diskusi, Kepala Pusat Hubungan Internasional (International Office) UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, M.Pd., menyampaikan prolog bertajuk "Sinergi Bahasa Arab dan Inggris dalam Globalisasi". Ia menyoroti fenomena translanguaging—sebuah kondisi di mana mahasiswa menavigasi teks-teks turats (klasik) Arab dengan metodologi riset yang referensinya didominasi bahasa Inggris.
"Kita tidak ingin mahasiswa hanya menjadi peniru dalam berbahasa Inggris, atau sekadar 'fotokopi' Timur Tengah dalam berbahasa Arab," ujar Irwandi. Ia memperkenalkan konsep Hybrid Competence, yakni kemampuan sarjana yang mahir berdebat dengan logika Arab sekaligus fasih mempresentasikannya dalam retorika Inggris yang elegan.
Sebagai contoh, saat mahasiswa mendiskusikan konsep Gharar dari teks Arab namun menjelaskannya melalui terminologi Asymmetric Information dari literatur Inggris, di situlah terjadi efektivitas komunikatif. Menurutnya, ini bukanlah perusakan bahasa, melainkan upaya membangun jembatan antara syariat klasik dengan realitas pasar global.
| Baca juga: Programmer: Arsitek di Balik Dunia Digital |
Transformasi Ilmiah
Sinergi ini diperkuat oleh paparan pakar dari ICESCO (Islamic World Educational, Scientific and Cultural Organization), Malaysia, Dr. MD Noor Bin Hussin. Dalam kuliah umum yang dibuka oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Dr. Junaidi, M.Pd. tersebut, MD Noor menekankan bahwa penelitian bahasa Arab harus keluar dari zona konvensional.
Ada tiga poin krusial yang ia garis bawahi bagi peneliti muda:
- Teknologi sebagai Mitra: Kecerdasan Buatan (AI) harus dipandang sebagai mitra strategis untuk memperkuat kualitas riset, bukan ancaman bagi peran peneliti.
- Pendekatan Multidisipliner: Menghubungkan ilmu linguistik dengan disiplin ilmu modern agar hasil penelitian lebih aplikatif.
- Kemanfaatan Sosial: Riset yang berkualitas adalah riset yang mampu memberikan dampak nyata dan solusi bagi masyarakat.
Senada dengan visi UIN Bukittinggi dan UIS Malaysia, kolaborasi ini bertujuan memposisikan Nusantara sebagai "Pusat Gravitas Baru". Sebuah wilayah di mana bahasa Arab yang sakral, bahasa Inggris yang global, dan kekayaan kultural lokal melebur menjadi satu kekuatan akademik yang unik.
Melalui forum yang dimoderatori Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab, Dr. Zubaidah, M.A. ini, pesan besarnya menjadi jelas: masa depan bahasa Arab tidak lagi fokus pada pencarian kesalahan tata bahasa (error analysis), melainkan pada interaksi strategis untuk mewarnai dunia dengan ide-ide keislaman yang adaptif.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....