Diplomasi Islamic English Melampaui Dinginnya Algoritma Mesin
- 25 Apr 2026 15:56 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Kubang Putiah - Kecerdasan buatan sering kali gagal menangkap kedalaman makna teologis. Program studi Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi hadir mengawal kemurnian pesan Islam melalui pendekatan unik: Islamic English (bahasa Inggris Islami) .
Tahun 2026 menjadi saksi bahwa kecanggihan algoritma penerjemah belum mampu menyentuh kedalaman spiritualitas. Dr. Irwandi, dosen Magister Pendidikan Bahasa Inggris UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, menyoroti ancaman nyata di era digital, yaitu distorsi makna ajaran agama akibat penerjemahan yang terlalu mekanis dan harafiah.

Mengawal Kemurnian Makna
Di sinilah konsep Islamic English yang diusung program studi Magister Pendidikan Bahasa Inggeris UIN Bukittinggi menjadi krusial. Bukan sekadar fasih berkomunikasi, lulusannya dilatih untuk menjadi "penjaga gerbang" agar tidak terjadi perancuan maksud ajaran Islam saat dialihbahasakan ke bahasa Inggris.
Dr. Irwandi mencontohkan distorsi yang lazim terjadi. "Selama ini, kata Wudhu’ sering diterjemahkan sebagai ablution. Padahal secara substansi, keduanya berbeda jauh. Ablution hanya bermakna membasuh tubuh secara umum—bahkan bisa dianalogikan seperti mencuci kendaraan. Sementara Wudhu’ adalah ritual ibadah dengan urutan dan syarat sah yang sakral," jelasnya.
Begitu pula dengan kata Haji yang kerap diterjemahkan menjadi pilgrimage atau pelakunya disebut pilgrim. Dalam bahasa Inggris, pilgrim berarti peziarah secara umum. "Haji bukanlah sekadar pergi berziarah. Ia adalah rukun Islam dengan rincian ibadah yang sangat spesifik. Jika kita hanya mengandalkan AI atau kamus konvensional tanpa pemahaman sosiolinguistik Islam, makna agung tersebut akan tereduksi menjadi aktivitas wisata religi biasa," tambah Dr. Irwandi yang juga mengampu matakuliah Bahasa Inggeris untuk Kajian Aqidah dan Filsafat Islam pada Program Studi Magister Akidah dan Filsafat Islam UIN Bukittinggi.
Menjaga "Ruh" Komunikasi
Dalam pandangan Dr. Irwandi, AI bekerja berdasarkan data statistik yang dingin dan sekuler. Sebaliknya, lulusan magister Pendidikan Bahasa Inggeris UIN Bukittinggi dibekali kemampuan untuk melakukan "interpretasi teologis" dalam berbahasa Inggris. Mereka memastikan bahwa istilah-istilah kunci Islam tetap terjaga maknanya, baik melalui penggunaan istilah asli (transliterasi) yang diikuti penjelasan kontekstual, maupun pemilihan padanan kata yang paling mendekati nilai syara'.
Mengapa AI Bisa Merancukan Makna Islam?
Dr. Irwandi mengemukakan alasan AI berpotensi merancukan makna Islam:
(a) Keterbatasan Konteks: AI tidak memahami konsep ibadah dan karomah; ia hanya mencocokkan kata berdasarkan frekuensi penggunaan.
(b) Reduksi Makna: Istilah seperti Shalat sering hanya diterjemahkan sebagai prayer (doa), padahal Shalat memiliki struktur ritual yang berbeda dengan doa umum.
(c) Bias Budaya: Kamus bahasa Inggris standar sering kali menggunakan sudut pandang Barat yang tidak selalu kompatibel dengan konsep ketauhidan.
Penjaga Peradaban di Era Digital
Lulusan magister Pendidikan Bahasa Inggeris Pascasarjana UIN Bukittinggi berdiri di garis depan sebagai pionir yang menggabungkan kecanggihan linguistik dengan ketajaman akidah. Mereka membuktikan bahwa di balik kecanggihan teknologi, tetap harus ada ahli yang memastikan pesan Tuhan tidak terdistorsi oleh baris kode biner.
Selama Islam dipelajari secara global, Islamic English akan terus menjadi benteng pertahanan bagi kemurnian ajaran agama di panggung dunia.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....