Debut Sang Moderator Piawai: Dr. Irwandi Pukau Pembicara Lintas Negara di IMLF-4
- 08 Jun 2026 14:41 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Mengendalikan jalannya seminar internasional dengan dinamika waktu yang ketat serta barisan pembicara lintas negara bukanlah perkara mudah. Namun, tantangan besar tersebut berhasil ditaklukkan dengan gemilang oleh Dr. Irwandi dalam perhelatan The 4th International Minang Literacy Festival (IMLF-4) / Festival Literasi Minang Internasional yang berlangsung di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Sabtu (6/6).
Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi sekaligus penggiat Literasi Falsafah Minang ini tampil memukau sebagai moderator. Ia sukses memandu dan merajut pemikiran kritis dari lima perspektif pakar dunia dalam seminar bertajuk "Opportunities and Challenge for Teachers in the AI Era".

Kepiawaian Dr. Irwandi memantik apresiasi langsung dari pembicara internasional, Mai White, seorang jurnalis dan penulis asal Perth, Australia.
"Ia cerdas menghidupkan suasana seminar, menerjemahkan dan menyampaikan intisari gagasan pembicara kepada peserta seminar, dan menyimpulkan hasil seminar," puji Mai White.
Pengakuan serupa disampaikan secara tulus oleh Sekretaris Panitia IMLF-4, Armaidi Tanjung. Ia mengaku salut dengan ketangkasan sang moderator dalam mengendalikan ritme diskusi global tersebut.
"Saya salut dengan kepiawaian Dr. Irwandi mengendalikan laju seminar. Ia tangkas dan juga komunikatif," ungkap Armaidi.
Berdasarkan pantauan RRI di lokasi acara, Dr. Irwandi bahkan mampu merumuskan hasil-hasil seminar yang kompleks menjadi sebuah sajian informasi yang bernas, memudahkan para jurnalis yang hadir untuk menangkap substansi acara. Tak hanya dari kalangan panitia dan jurnalis, decak kagum juga datang dari bangku peserta yang sebagian besar merupakan praktisi pendidikan.
"Moderator itu adalah dosen saya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Bukittinggi dan sangat menginspirasi," ujar Misrawati, seorang guru di SD Islam Terpadu di Bukittinggi dengan nada bangga.
Peluncuran Buku "Caro Minang" di Panggung Internasional
Selain sukses memandu jalannya seminar internasional, momen IMLF-4 ini juga menjadi catatan emas tersendiri bagi kiprah literasi Dr. Irwandi. Dalam perhelatan berskala global tersebut, bukunya yang berjudul "Caro Minang: Pusaka Kearifan dari Bumi Minangkabau" terpilih untuk diluncurkan secara resmi dalam agenda prestisius Launching 100 Buku Internasional.
Prestasi ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai akademisi yang konsisten menyuarakan dan menggerakkan literasi falsafah Minangkabau, baik melalui mimbar ceramah maupun melalui goresan pemikirannya yang kerap menghiasi berbagai media nasional.
Di lingkungan kampus, Dr. Irwandi merupakan dosen yang mengampu mata kuliah Sociolinguistics dan Second Language Acquisition. Dedikasi akademiknya juga tercermin dari kiprahnya sebagai Kepala Pusat Hubungan Internasional dan Editor-in-Chief Jurnal Modality, sebuah jurnal ilmiah yang fokus pada kajian Linguistik Terapan. Di luar rutinitas akademik, figur yang dikenal multitalenta ini juga aktif di tengah masyarakat sebagai seorang da'i serta menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh.
Intisari IMLF-4: Kecerdasan Buatan Tak Mampu Gantikan Jiwa Guru
Melalui kendali moderator Dr. Irwandi, seminar IMLF-4 berhasil mengupas tuntas realitas ruang kelas masa depan yang kini tengah mempertaruhkan sisi kemanusiaannya di hadapan ekspansi Artificial Intelligence (AI). Seminar ini berhasil memetakan cetak biru peluang dan tantangan guru ke dalam lima dimensi utama: kebijakan pemerintah (pemerataan akses), kompetensi guru, sosial, budaya, serta psikologis.
- Mai White (Australia): Menegaskan AI hanyalah alat (tool), bukan nakhoda. Ia mendesak pemerintah menjamin pemerataan akses teknologi agar tidak memperlebar jurang ketimpangan sosial.
- Prof. Lisa Kuitert (Universitas Amsterdam): Menyoroti pentingnya tradisi literasi fisik bagi Generasi Z. Kedalaman berpikir hanya lahir dari ketekunan membaca buku konvensional di perpustakaan, bukan dari budaya instan gawai.
- Lucilla Trapazono (Swiss): Membedah keterbatasan linguistik AI. Menurutnya, mesin hanya menerjemahkan kata demi kata secara mekanis, namun buta terhadap kedalaman perasaan, metafora, dan nuansa budaya.
- Dr. Ganjar Harimansyah (Kemendikdasmen RI): Menegaskan bahwa komunikasi insani yang persuasif dan empatik tetap menjadi domain mutlak milik guru yang tidak akan bisa ditiru oleh data AI.
- Prof. Silfia Hanani (Rektor UIN Bukittinggi):Menutup seminar dengan membakar optimisme dan resiliensi mental guru. "Guru jangan pernah merasa terpinggirkan oleh kehadiran AI. Mesin itu tidak memiliki rasa dan tidak akan pernah mampu membina akhlak anak didik," tegasnya lugas.
Dari kota wisata Bukittinggi, lewat diskusi panjang yang dipandu dengan apik oleh Dr. Irwandi, IMLF-4 mengirimkan pesan kuat ke panggung dunia: di era puncaknya teknologi, esensi tertinggi pendidikan tetaplah sentuhan antar-manusia.()
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....