Sarapan di Panorama, Hangatkan Persahabatan Bukittinggi–Jepang

  • 06 Agt 2026 09:15 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi - Pagi di Kota Bukittinggi, Kamis (6 Agustus 2026), terasa berbeda.

Di tengah sejuknya udara dan panorama indah yang menjadi salah satu wajah kebanggaan kota, sebuah perjumpaan sederhana justru menghadirkan makna yang jauh lebih besar.

Bukan sekadar sarapan. Bukan pula hanya pertemuan antarpejabat.

Di Taman Panorama Bukittinggi, Wali Kota Bukittinggi H.M. Ramlan Nurmatias, SH Datuak Nan Basa, didampingi Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi H. Rismal Hadi,S.STP.M.Si dan Camat menyambut kedatangan Konsul Jenderal Jepang di Medan Furugori Toru dalam suasana hangat, akrab dan penuh persahabatan.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan baik yang selama ini telah terjalin sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Jepang dengan Kota Bukittinggi.

Namun, ada sesuatu yang membuat perjumpaan itu terasa istimewa.

Di atas meja, bukan hidangan mewah yang menjadi pusat perhatian. Justru kuliner khas Minangkabau, bubur kampiun, hadir menjadi bagian dari jamuan yang menyatukan suasana.

Sederhana, tetapi sarat makna.

Sebab dari sepiring bubur kampiun, sebuah pesan budaya seolah tersampaikan: Bukittinggi tidak hanya ingin dikenal melalui keindahan alam dan sejarahnya, tetapi juga melalui keramahan masyarakat, kekayaan tradisi dan cita rasa kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari Sepiring Bubur Kampiun, Tumbuh Persahabatan

Bubur kampiun bukan sekadar makanan khas Minangkabau.

Di dalamnya terdapat keberagaman rasa yang berpadu dalam satu sajian. Ada ketan, kolak, bubur sumsum, pisang dan berbagai unsur lainnya yang menyatu menjadi sebuah hidangan.

Keberagaman yang berpadu itulah yang seolah menggambarkan semangat pertemuan pagi tersebut.

Berbeda latar belakang, berbeda budaya dan berbeda negara, namun dapat duduk bersama dalam suasana penuh keakraban.

Dari Bukittinggi, pesan persahabatan itu terasa begitu sederhana: perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tetapi kesempatan untuk saling mengenal dan saling menghargai.

Kehadiran Furugori Toru di Taman Panorama juga memberikan warna tersendiri bagi hubungan Bukittinggi dengan Jepang.

Percakapan yang berlangsung dalam suasana santai menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat, bukan hanya dalam konteks hubungan kelembagaan, tetapi juga hubungan antarmanusia.

Karena diplomasi terkadang tidak selalu harus berlangsung di ruang-ruang resmi.

Diplomasi juga dapat dimulai dari meja makan.

Dari secangkir minuman.

Dari sepiring makanan khas.

Dan dari percakapan ringan yang kemudian melahirkan kepercayaan.

Bukittinggi Membuka Pintu Kerja Sama

Bagi Pemerintah Kota Bukittinggi, pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk terus membuka ruang komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Jepang.

Hubungan yang baik tentu tidak berhenti pada sebuah pertemuan.

Lebih jauh, diharapkan dapat berkembang menjadi kolaborasi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Berbagai potensi Bukittinggi dapat menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama, mulai dari sektor pariwisata, kebudayaan, pendidikan, ekonomi kreatif, UMKM, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Bukittinggi memiliki sejarah panjang sebagai kota yang terbuka terhadap dunia.

Kota yang tumbuh dari kekuatan perdagangan, kebudayaan dan interaksi masyarakatnya.

Karena itu, membangun hubungan dengan dunia internasional bukan sesuatu yang asing bagi Bukittinggi.

Justru dari sinilah kesempatan untuk memperkenalkan lebih luas karakter masyarakat Minangkabau yang dikenal menjunjung tinggi nilai adat, agama, keramahan dan semangat merantau.

Ketika Budaya Menjadi Bahasa Persahabatan

Pertemuan pagi itu memperlihatkan satu hal penting.

Bahwa hubungan antarbangsa tidak selalu harus dibangun melalui bahasa diplomasi yang kaku.

Kadang-kadang, budaya justru menjadi bahasa yang paling mudah dipahami.

Ketika seorang tamu dari Jepang duduk menikmati kuliner khas Bukittinggi, sesungguhnya ada bagian dari Minangkabau yang sedang diperkenalkan.

Bukan hanya rasa makanan, tetapi juga nilai yang berada di baliknya.

Keramahan.

Keterbukaan.

Penghormatan kepada tamu.

Dan tradisi masyarakat yang sejak dahulu menjadikan jamuan sebagai bentuk penghargaan kepada orang yang datang.

Dalam budaya Minangkabau, tamu bukan sekadar orang yang berkunjung.

Tamu adalah seseorang yang patut dihormati.

Karena itu, sambutan hangat Wali Kota Bukittinggi bersama jajaran Pemerintah Kota bukan hanya sebuah agenda pemerintahan, tetapi juga cerminan karakter masyarakat Bukittinggi yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan.

Dari Panorama Bukittinggi, Menatap Masa Depan

Taman Panorama pagi itu bukan sekadar lokasi pertemuan.

Di tempat yang menyuguhkan keindahan alam Bukittinggi tersebut, dua budaya bertemu dalam suasana yang penuh keakraban.

Jepang dan Minangkabau.

Dua wilayah dengan karakter budaya yang kuat, sama-sama memiliki tradisi, kedisiplinan, penghormatan terhadap nilai dan semangat untuk menjaga warisan leluhur.

Pertemuan ini diharapkan menjadi awal bagi semakin eratnya hubungan persahabatan antara Jepang dan Bukittinggi.

Sebab setiap kerja sama besar hampir selalu dimulai dari sebuah langkah kecil.

Sebuah pertemuan.

Sebuah percakapan.

Sebuah kepercayaan.

Dan pagi itu, kepercayaan tersebut dirajut melalui suasana yang hangat di Taman Panorama.

Bagi Bukittinggi, kehadiran Konsul Jenderal Jepang bukan hanya tentang siapa yang datang dan siapa yang menyambut.

Lebih jauh, ada harapan agar perjumpaan itu membuka pintu-pintu baru bagi kemajuan kota dan kesejahteraan masyarakat.

Pintu kerja sama yang mungkin kelak membawa manfaat bagi pelaku UMKM, generasi muda, dunia pendidikan, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Karena pada akhirnya, hubungan persahabatan antarbangsa akan terasa bermakna apabila manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Dan pagi itu, dari sebuah meja sarapan di Taman Panorama, Bukittinggi kembali menunjukkan wajahnya kepada dunia:

Kota yang ramah, kota yang terbuka, kota yang menjaga budaya, sekaligus kota yang siap membangun persahabatan dengan dunia.

Dari sepiring bubur kampiun, percakapan pun mengalir.

Dari percakapan, lahir keakraban.

Dari keakraban, tumbuh kepercayaan.

Dan dari kepercayaan, terbuka peluang kerja sama.

Sebuah pagi yang sederhana, tetapi mungkin menjadi awal dari cerita besar persahabatan Bukittinggi dan Jepang di masa mendatang. (JM/RRI BKT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....