Budaya Kampus: Antara Etos Kerja Dan Penyakit Hati

  • 04 Apr 2026 10:13 WIB
  •  Bukittinggi

Oleh: Dr. Rahima Sikumbang

( Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi )

RRI.CO.ID,Tokyo - Pertanyaan itu kerap mampir di sela-sela obrolan santai bersama rekan sejawat: "Bagaimana sebenarnya atmosfer pendidikan di kampus-kampus Jepang atau Eropa?"Jawaban saya sederhana, namun sarat makna: Aman, nyaman, dan fokus.

Jika Anda berkunjung ke Universitas Tokyo, pemandangan yang akan menyambut Anda bukanlah deretan kendaraan mewah di parkiran, melainkan gerak cepat langkah kaki dan kayuhan sepeda.

Di sana, waktu adalah mata uang yang sangat berharga. Mahasiswa dan dosen bergerak dengan presisi, seolah setiap detik telah memiliki tujuannya masing-masing.

Perpustakaan? Jangan tanya. Ia adalah jantung yang berdenyut 24 jam; penuh, tenang, dan dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang haus akan literasi.

Paradoks "Cuek" yang Beradab

Ada satu fenomena menarik yang saya amati, baik di jantung Eropa maupun di sudut-sudut Tokyo.

Mereka memiliki budaya "cuek" yang sangat tinggi terhadap urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Saya teringat sebuah momen di Perpustakaan Finlandia. Bangunannya begitu artistik, sebuah mahakarya arsitektur yang tentu saja mengundang turis Asia—baik dari Cina, Korea, maupun Indonesia—untuk sibuk berfoto ria. Bagi para turis, perpustakaan mungkin objek wisata, tapi bagi warga lokal, itu adalah ruang suci untuk bekerja.

Ajaibnya, meski para turis sibuk berpose di depan mata mereka, orang-orang Finlandia itu tetap bergeming. Tak ada lirikan sinis, tak ada bisik-bisik tetangga, apalagi komentar miring. Mereka fokus. Berbeda sekali dengan realitas di kita; sedikit saja ada yang "berbeda," mata langsung melirik, bibir mulai mencibir, dan jempol di media sosial mulai menari liar memberikan penghakiman yang seringkali tak masuk akal.

Warisan Sifat yang Menghancurkan

Mengapa kita seolah begitu gemar ribut dengan urusan orang lain? Jika kita bedah secara spiritual, sikap senang berkomentar negatif dan "iri" (hasad) sebenarnya adalah warisan watak yang sangat berbahaya.

Dalam catatan sejarah langit, Bani Israel dikisahkan sering membantah perintah Nabi Musa AS bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena malas dan tidak mampu, sehingga mereka menutupi kelemahan itu dengan banyak tanya dan komentar (cingkunek).

Lebih jauh lagi, ada penyakit Hasad—iri hati yang muncul justru setelah kebenaran itu nyata terlihat.Ini adalah muara yang bermula dari Iblis yang iri kepada Nabi Adam AS. Rasulullah SAW telah memperingatkan bahwa hasad akan melahap kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. Inilah alasan mengapa saya berusaha keras menjaga hati agar tidak ada setetes pun rasa iri bersemayam di jiwa. Karena setetes rasa itu cukup untuk meruntuhkan seluruh gunung amal yang kita bangun.

Kontradiksi Sosial: Siapa yang Lebih "Islami"?

Ada ironi yang menyesakkan dada. Di negara-negara yang mayoritas non-muslim, saya justru menemukan karakter yang sangat dekat dengan nilai Islam: fokus pada urusan sendiri, namun paling depan dalam membantu jika orang lain kesulitan.

Saat mobil terjebak salju tebal, mereka akan bekerja keras membantu tanpa perlu diminta, lalu setelah selesai, mereka kembali ke kesibukan mereka tanpa mengharap pujian.

Sedangkan di kita? Seringkali kita dapati sosok yang sangat usil, iri, dan sibuk menghakimi hidup orang di kolom komentar Instagram. Namun, saat ada yang benar-benar butuh bantuan nyata, mereka hilang bak tikus masuk lubang. Tak berbekas, kecuali kotoran (komentar negatif) yang tertinggal. Naudzubillah mindzalik.

Mendefinisikan Ulang Kesombongan

Terkadang kita salah kaprah. Saat seseorang berpakaian indah, kita sebut sombong. Padahal Rasulullah SAW bersabda, "Allah itu Indah dan menyukai keindahan." Sombong yang sesungguhnya, menurut definisi nubuwah, hanya ada dua:Merendahkan orang lain.Menolak kebenaran.Dua sifat inilah yang menjadi akar dari kehancuran karakter.

Meski kita tidak mengambil semua budaya Barat atau Jepang—seperti gaya hidup bebas atau alkohol—namun etos kerja, kemandirian, dan ketenangan hati mereka dalam menghargai privasi orang lain adalah hikmah yang tercecer yang harus kita pungut kembali.

Sebagai orang beriman, tugas kita adalah mengambil yang jernih dan membuang yang keruh. Fokuslah pada tujuan, bersihkan hati dari sisa-sisa watak iblis, dan biarkan kebaikan mengalir, sehangat notifikasi transferan dari anak menantu di pagi hari yang cerah ini. Alhamdulillah

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....