180 Baju Milik Padang Magek Sita Perhatian Pengunjung Festival Minangkabau
- 01 Jul 2026 08:38 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Tanah Datar – Parade keelokan busana tradisional adat seakan tiada habisnya memukau publik. Menjadi kebanggaan kolektif masyarakat Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan, sebanyak kurang lebih 180 Baju "Milik" sukses menyita perhatian dan memicu animo tinggi dari para pengunjung pada momentum pembukaan Festival Minangkabau 2026 di pelataran Istano Basa Pagaruyung.
Busana khas kaum perempuan yang merupakan warisan adiluhung lokal tersebut secara turun-temurun lazim dikenakan dalam upacara sakral nagari, seperti ritual batagak gala (pengukuhan gelar adat) hingga perhelatan baralek (pesta pernikahan). Keunikan visual dan otentisitas karakteristiknya yang tidak dijumpai di wilayah lain menjadikannya salah satu titik buruan swafoto terfavorit bagi para wisatawan.
Secara struktur kelengkapan, draf setelan Baju Milik mengintegrasikan komponen tangkuluak (penutup kepala), baju hitam, rok hitam, selendang panjang, ikat pinggang khas, serta kelengkapan kambuik bajaik. Pakaian adat ini sarat akan muatan filosofis mendalam yang merepresentasikan prinsip hidup Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), sekaligus cerminan nilai luhur adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan.
Semarak pembukaan event akbar ini kian berwarna dengan unjuk performa seni Tari Kolosal "Saribu Katidiang Saok" persembahan anak nagari asal Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru. Koreografi makro yang melibatkan lintas generasi—mulai dari usia anak-anak hingga jajaran Bundo Kanduang—tersebut menyuarakan visualisasi dinamis mengenai esensi semangat gotong royong dan keteguhan komparatif masyarakat dalam merawat orisinalitas tradisi di tengah gempuran modernisasi.
Panggung ekspresi kemudian dilanjutkan oleh perwakilan nagari dari seluruh kecamatan se-Tanah Datar dengan menampilkan fragmen ritual leluhur yang masih terjaga eksistensinya. Mulai dari prosesi adat turun mandi, maanta marapulai, managuah, hingga tradisi mamanis-manisi anak, yang kemudian ditutup secara apik lewat sajian tari kolosal multi-etnik persembahan Nagari Baringin.
Di sisi lain, ceruk wisata yang tidak kalah memikat perhatian adalah zona kuliner tempo dulu yang dipusatkan di Lapangan Cindua Mato (LCM) Batusangkar. Berdampingan dengan stan pameran kecamatan, koridor ini menyuguhkan aneka varietas takjil dan panganan tradisional legendaris warisan antargenerasi, seperti karupuak leak, pinukuik tampuruang, lompong sagu, hingga godok ubi.
Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama jajaran tamu undangan VIP bahkan menyempatkan diri berbaur dengan warga untuk mencicipi langsung renyahnya karupuak leak serta segarnya takaran aie aka (air akar) di salah satu stan UMKM.
"Inilah salah satu esensi utama dari penyelenggaraan Festival Minangkabau. Panganan dan kuliner tempo dulu kita proyeksikan kembali ke permukaan. Langkah ini selain ampuh mengobati kerinduan sosiologis masa lalu, juga terbukti efektif menggerakkan roda ekonomi kerakyatan dan menstimulasi pendapatan pelaku UMKM kita," tutur Bupati Eka Putra.
Festival Minangkabau 2026 bergulir simultan selama empat hari berturut-turut. Guna memanjakan animo publik, panggung utama LCM Batusangkar pada setiap malamnya akan diinjeksikan dengan panggung hiburan rakyat yang menghadirkan jajaran artis papan atas Ranah Minang, seperti Kintani, Pinki Prananda, Upiak Isil, hingga Uda Rio. (tim)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....