Jadi Musisi di Era Digital, Masih Menjanjikan?
- 16 Sep 2026 07:57 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Dulu, jadi musisi identik dengan manggung di kafe, masuk label, atau menunggu lagu diputar di radio, tetapi sekarang jalannya jauh lebih luas karena musik bisa langsung dirilis ke platform digital. Data Luminate menunjukkan bahwa pendengar di Indonesia melakukan 32 miliar streaming musik on-demand sepanjang 2025, menjadikan Indonesia salah satu pasar streaming musik terbesar di Asia.
Peluangnya juga bukan sekadar soal terkenal, tetapi sudah masuk ke urusan penghasilan musisi di era digital karena royalti streaming terus berkembang. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat karya musisi Indonesia ditemukan lebih dari 6,3 miliar kali oleh pendengar baru di Spotify sepanjang 2025, sementara royalti musisi Indonesia di platform tersebut meningkat lebih dari 16 persen, dengan sekitar 60 persen pendapatan berasal dari pendengar luar negeri.
Menariknya, pasar industri musik digital Indonesia juga masih punya ruang besar untuk tumbuh, meskipun persaingannya makin ramai. Pemerintah memperkirakan pendapatan pasar musik digital Indonesia mencapai sekitar US$231,64 juta pada 2025 dan berpotensi terus bertumbuh hingga 2030.
Namun, menjadi musisi digital bukan berarti cukup membuat lagu lalu mengunggahnya dan menunggu viral; musisi sekarang juga perlu memahami personal branding, media sosial, content creation, distribusi musik, dan cara membangun komunitas penggemar.
| Baca juga: Mengapa Generasi Muda Rentan Mengalami FOMO? |
Apalagi, royalti bukan satu-satunya sumber penghasilan karena musisi bisa mengembangkan pemasukan dari pertunjukan langsung, merchandise, endorsement, lisensi musik, hingga kolaborasi dengan brand.
Jadi, apakah menjadi musisi di era digital masih menjanjikan? Jawabannya: masih, bahkan peluangnya semakin terbuka, tetapi yang menang bukan hanya mereka yang punya suara bagus atau lagu keren, melainkan mereka yang mampu menggabungkan kreativitas musik dengan strategi digital, konsistensi, dan kemampuan membangun audiens.
Intinya, era digital membuat musisi tidak harus menunggu ditemukan industri—sekarang, mereka bisa membangun jalannya sendiri dan bahkan membawa musik Indonesia ke pendengar global. (AMP/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....