Kenapa Kita Takut Ketinggalan Tren?, Mengenal Fenomena FOMO di Era Media Sosial

  • 18 Mei 2026 10:59 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Media sosial membuat kita bisa melihat kehidupan orang lain setiap saat. Ada yang liburan, sukses membangun bisnis, nongkrong di tempat estetik, sampai membeli barang terbaru. Tanpa sadar, semua itu sering membuat seseorang membandingkan hidupnya sendiri dengan kehidupan orang lain. Dari sinilah muncul fenomena yang disebut FOMO atau fear of missing out — rasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau kesenangan orang lain.

FOMO sebenarnya adalah perasaan cemas ketika merasa orang lain sedang menikmati sesuatu yang lebih baik dari kita. Misalnya takut ketinggalan tren viral, merasa harus ikut nongkrong agar tidak dianggap “kurang gaul”, atau terus mengecek media sosial karena takut ada informasi penting yang terlewat. Perasaan ini semakin sering muncul di era digital karena informasi bergerak sangat cepat.

Dulu, orang hanya membandingkan diri dengan lingkungan sekitar. Sekarang, lewat media sosial, seseorang bisa membandingkan hidupnya dengan ribuan orang sekaligus dalam satu hari. Masalahnya, yang terlihat di internet biasanya hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Orang lebih sering membagikan momen bahagia dibanding perjuangan atau masalah yang mereka alami.

Fenomena FOMO juga membuat banyak orang sulit merasa puas dengan hidupnya sendiri. Ketika melihat teman membeli gadget baru atau traveling ke luar negeri, muncul perasaan bahwa diri sendiri tertinggal. Padahal setiap orang punya jalan hidup, kondisi finansial, dan prioritas yang berbeda. Namun otak manusia secara alami suka membandingkan diri dengan orang lain.

Media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus kembali membuka aplikasi. Notifikasi, video pendek, dan tren viral memicu rasa penasaran agar orang tidak merasa “ketinggalan”. Akibatnya, banyak orang jadi sulit lepas dari ponsel mereka. Bahkan beberapa orang merasa cemas jika tidak membuka media sosial selama beberapa jam saja.

FOMO bukan hanya berdampak pada mental, tetapi juga kebiasaan sehari-hari. Banyak orang jadi impulsif membeli barang, memaksakan diri mengikuti tren, atau terlalu sibuk mencari validasi di internet. Ada juga yang merasa harus selalu terlihat produktif dan sukses demi dianggap setara dengan orang lain.

Dalam jangka panjang, FOMO bisa memicu stres, kelelahan mental, hingga rasa rendah diri. Semakin sering membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain di internet, semakin mudah seseorang merasa kurang. Padahal apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kenyataan sepenuhnya.

Cara terbaik menghadapi FOMO adalah belajar fokus pada kehidupan sendiri. Mengurangi waktu bermain media sosial, berhenti membandingkan diri, dan lebih menghargai proses pribadi bisa membantu pikiran menjadi lebih tenang. Tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua hal viral benar-benar penting untuk hidup kita.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat terlihat sukses di internet. Media sosial sering membuat orang lupa bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pengakuan orang lain. Kadang, merasa cukup dengan hidup sendiri justru menjadi hal paling sulit sekaligus paling penting di era digital sekarang. (DEP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....