Generasi Overthinking, Kenapa Kita Sulit Merasa Cukup?

  • 18 Feb 2026 14:13 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pernah nggak sih, kamu lagi rebahan malam-malam, lampu sudah mati, tapi otak justru makin aktif? Tiba-tiba kepikiran omongan tadi siang, kerjaan yang belum selesai, target hidup yang rasanya masih jauh banget. Padahal hari itu kamu sudah berusaha. Tapi tetap saja muncul satu pertanyaan kecil yang ganggu: “Aku ini sebenarnya sudah cukup belum, ya?”

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Scroll media sosial lima menit saja, rasanya seperti ditampar pencapaian orang lain. Ada yang baru lulus langsung kerja di perusahaan besar. Ada yang bisnisnya sudah jalan. Ada yang nikah, punya rumah, traveling ke sana-sini. Sementara kita? Masih berjuang di titik yang itu-itu saja atau setidaknya terasa begitu.

Yang bikin capek sebenarnya bukan hidupnya, tapi pikiran kita sendiri. Kita sering membandingkan “proses” kita dengan “hasil akhir” orang lain. Kita lupa kalau yang tampil di layar itu versi highlight, bukan cerita lengkapnya. Tapi tetap saja, hati rasanya kecil.

Belum lagi tekanan untuk selalu berkembang. Harus produktif. Harus punya goals. Harus upgrade skill. Harus punya tabungan. Harus glow up. Semua terasa seperti daftar panjang yang tidak pernah selesai. Kalau sehari saja kita istirahat, muncul rasa bersalah. Seolah-olah berhenti sebentar itu dosa besar.

Overthinking juga sering datang dari hal-hal kecil. Salah kirim chat saja bisa dipikirkan seharian. Takut salah ambil keputusan. Takut mengecewakan orang tua. Takut dianggap tidak sukses. Takut tertinggal. Akhirnya kita terlalu sibuk memikirkan kemungkinan buruk sampai lupa menikmati hari ini.

Kita ingin semuanya aman: finansial stabil, karier jelas, hubungan sehat, mental kuat. Maunya lengkap. Padahal hidup jarang memberi semuanya sekaligus. Selalu ada fase kosong, fase ragu, fase belum tahu mau ke mana.

Dan mungkin, di situlah masalahnya. Kita terlalu keras pada diri sendiri. Terlalu fokus pada apa yang belum tercapai, sampai lupa melihat apa yang sudah berhasil kita lewati. Padahal bisa bangun setiap hari, tetap mencoba, tetap bertahan itu bukan hal kecil.

Merasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Bukan berarti menyerah. Tapi memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas. Mengakui bahwa kita sedang berproses. Bahwa hidup bukan lomba lari, dan garis finis tiap orang memang beda-beda.

Mungkin kita memang generasi yang banyak berpikir. Tapi itu bukan kelemahan. Itu tanda kita peduli. Hanya saja, sesekali kita perlu menenangkan pikiran dan berkata pada diri sendiri:

Kamu sudah berusaha. Kamu sedang belajar. Dan untuk hari ini, kamu sudah cukup. (DEP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....