Mengapa Perlu Puasa

  • 13 Feb 2026 07:00 WIB
  •  Bukittinggi

Oleh : Prof. Dr. H. MASRI MANSOER

Ketua Badan Persiapan Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau (BP2DIM)

RRI.CO.ID,Jakarta - Allah SWT menghendaki manusia hidup dalam keadaan sehat lahir dan batin, agar mampu menjalankan tugas sebagai hamba dan khalifah di muka bumi dengan sebaik-baiknya. Karena itu, Allah mewajibkan puasa sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 183, agar manusia mencapai derajat takwa. Kemuliaan itu ditegaskan kembali dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah ibadah yang sarat makna, menyentuh dimensi spiritual, mental, sosial, hingga fisik manusia. Dalam redaksi ayat kewajiban puasa, Allah menggunakan bentuk yang menunjukkan bahwa puasa bukan hanya diperintahkan, tetapi memang menjadi kebutuhan manusia itu sendiri. Artinya, manusia bukan saja diwajibkan berpuasa, tetapi sesungguhnya sangat memerlukan puasa.

Secara spiritual, puasa adalah jalan menuju ketakwaan. Ia menjadi perisai dari perbuatan dosa dan maksiat. Ketika seseorang menahan diri dari hal-hal yang halal di siang hari Ramadan, ia sedang melatih dirinya untuk lebih mudah meninggalkan yang haram di luar Ramadan. Puasa mendidik hati agar lebih peka terhadap kehadiran Allah dalam setiap aktivitas kehidupan.

Pengendalian hawa nafsu adalah hikmah besar lainnya. Lapar dan haus melatih kesabaran, mengendalikan emosi, serta membentuk pribadi yang lebih pemaaf dan berakhlakul karimah. Dalam kondisi berpuasa, seseorang belajar menata amarah, menahan lisan dari perkataan sia-sia, serta menjaga perilaku dari hal yang merugikan orang lain. Di sinilah puasa menjadi madrasah akhlak yang efektif.

Dari sisi mental, puasa menghadirkan kejernihan pikiran. Banyak orang merasakan fokus yang lebih baik dan ketenangan batin ketika berpuasa dengan benar. Jiwa menjadi lebih ringan, hati lebih lapang, dan pikiran lebih terarah. Dalam suasana hening dan penuh ibadah, manusia lebih mudah melakukan introspeksi diri dan memperbaiki kekurangan.

Puasa juga menumbuhkan empati sosial. Ketika kita merasakan lapar, kita diingatkan pada saudara-saudara yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Rasa peduli tumbuh, tangan menjadi ringan untuk berbagi, dan hati tergerak untuk membantu. Ramadan menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial dan mempererat ukhuwah.

Dari aspek kesehatan fisik, puasa memiliki banyak manfaat. Proses detoksifikasi membantu tubuh membuang racun. Metabolisme menjadi lebih teratur, kadar kolesterol jahat dapat menurun, dan kesehatan jantung lebih terjaga. Puasa juga membantu manajemen berat badan secara sehat serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh melalui regenerasi sel. Bahkan sejumlah penelitian modern menunjukkan potensi puasa dalam menjaga kesehatan otak dan menurunkan risiko penyakit degeneratif.

Tidaklah mengherankan jika Rasulullah SAW bersabda, “Wa shumu tasihhu” — berpuasalah, niscaya kamu akan sehat. Hadis ini bukan hanya janji kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa dan ruhani.

Puasa Ramadan, bila dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, akan mentransformasi diri menjadi pribadi yang lebih takwa, disiplin, sehat, dan peduli terhadap sesama. Ia menjadi tarbiyatul nafs, pendidikan jiwa yang membentuk karakter mulia.

Semoga kita mampu mempersiapkan spiritual, hati, jasmani, dan harta untuk menyambut Ramadan dengan sebaik-baiknya. Semoga puasa kita menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi Allah SWT. Aamiin.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....