Setelah Hari Raya Merajut Hati Memikir Kemajuan

  • 04 Apr 2026 09:58 WIB
  •  Bukittinggi

Oleh;

Prof. DR. Silfia Hanani,S.Ag.M.Si

Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

RRI.CO.ID,Kubang Putiah - Hari raya merupakan sebuah momentum yang sangat apik merekatkan antara rantau dan kampung halaman, pada hari itu hampir perantau menyempatkan diri untuk kembali kekampung halamannya untuk merayakannya. Tidak obahkan, hari raya adalah magnit yang menyatukan kembali yang tidak lama bersua dan tak berkunjung, kemudian dipertemukan dengan suka cita dihari tersebut, sehingga yang terjadi pada itu adalah kampung yang “mengota” sesaat, karena semua aspek ternampakan pada saat itu. Perpaduan kota yang ditawarkan oleh gaya hidup perantau dengan gaya pedesaan menyatu dengan harmoni.

Tradisi balik kampung ini, bagi orang Minang tidak akan lakang dan pupus tidak pula akan berakhir selagi kampung masih terpatri menjadi identitas bagi orang Minang. Kampung pengikat yang sangat kuat secara pisikologis, idiologis dan budaya bagi orang Minang, sehingga sulit untuk memisahkan sesorang dengan kampung halamannya, bahkan jika sudah lama putus hubungan dengan kampung halaman, maka anak cicitnya pun mencari silsilahnya supaya dapat berkampung yang dibanggakan dalam cerita hidup sesorang.

Hari raya, bagi orang Minang tidak hanya sebagai momentum meraya kemenangan setelah satu bulan penuh beribdah puasa dengan segenap ritualisasi ibadahnya, tetapi juga menjadi aset sosial yang berkontribusi terhadap masa depan kampung halaman. Dimana tidak sedikit kampung halaman tercerahkan oleh kepulangan perantau-perantaunya, sekalipun ada kecewanya atas suguhan-suguhan dengan “kenakalan” yang dilakukan prilaku yang tidak mengenakkan, ada yang menyebut “harga” langsung fantastis ketika lebaran.

Kini raya itu telah belalu, para perantau telah kembali kerantaunya masing-masing, kampung kembali sunyi seperti semua, bahkan rumah-rumah juga sudah lengang, aroma rendang pun sudah pula tak tericum. Orang kampung kembali menunggu hari raya tahun berikutnya, sambil perantau mengumpulkan bekal untuk pulang tahun depannya. Jalan-jalan pun sudah mulai lengang dengan lalu lalang, tak lagi berdesakan dalam kemacetan.

Ramdhan dan Hari Raya serta pulang kampung telah menjadi agenda tahunan dalam kehidupan kita, pekerjaanya sudah berulang-ulang dilaksanakan dan dilakukan, tentu sesuatu yang berulang-ulang itu, tidak hanya terjadi pengulangan perihal yang sama tanpa ada perubahan menuju berbagai perbaikan dan kemajunan, maka ditengah-tengah suasana kampung mulai ditinggalkan perantau ini, ada baiknya kita berfikir kembali untuk tahun besok apa yang akan dilakukan sambil menunggu perantau meneguhkan hatinya dan ekonominya diperantuan.

Kita perlu merajut kembali nilai-nilai yang positiv yang ada pada hari raya, diantaranya hari raya telah mampu merajut hati kita menjadi manusia yang baik dan berkontribusi pada banyak orang, merajut hati perantau dengan masyarakat kampung halamannya. Berkontribusi mendekatkan perantau dengan tanah leluhurnya, nenek moyangnya dan bersatu bersama kembali.

Merajut hati untuk kebersamaan itu yang sulit kini, karena sudah dibelah-belah oleh beragam kepentingan, kepentingan organisasi, partai dan bahkan dengan aliran keagamaan, sehingga kita hidup terkotak-kotak olehnya dan kita sering tidak sependapat untuk mengerjakan sesuatu berguna kemajuan, mengerjakan yang terbaik untuk bersama. Tenyata hari raya memperkecil jurang keterbelahan kita, menyatukan kembali hati yang akan kita gunakan untuk kepentingan masa depan.

Hari raya sudah menjadi aset bagi kita untuk membuat jembatan hati yang mempermudah untuk menyatukan realitas yang kita inginkan bersama, seperti menyatukan perantau dengan masyarakat kampung halaman. Ini persis seperti yang dikatakan oleh sosiolog Berger & Luckmann, sesungguhnya realitas apa yang kita inginkan merupakan hasil dari interaksi sosial yang dijalin dari berbagai arah. Anggaplah hari raya menjadi media yang memberikan ruang interkasi sosial itu, dimana kampung dan rantau terkoneksi dengan komunikasi kedua kelompok itu.

Ruangan itulah yang membuat situasi kehidupan sosial kita lebih stabil yang mempermudah untuk mencapai kemajuan. Sesungguhnya hari raya bisa kita jadikan sebagai basis untuk kemajuan itu, tinggal bagaimana kita menyusun kerangkanya dari tahun ke tahun menjadi sebuah perubahan yang berarti terutama bagi masyarakat kampung halaman dalam berbagai aspek, baik aspek ekonomi, pendidikan dan setersunya.

Untuk itu hari raya ke depan mari kita pikirkan, gerakan apa yang akan dilakukan untuk berkontribusi pada kemajuan, sehingga hari raya tidak dominan kesannya sebagai selebrasi perayaan tahunan yang menawarkan berbagai konstelasi budaya. Tidak hanya menjadi agenda tahunan yang terperangkap oleh amukan ketidak nayamanan di sana sini, karena inprastruktur dan budaya-budaya “kesempatan”.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....