Maanta Bubua, "Tradisi Pernikahan Khas Nagari Cupak"
- 07 Sep 2026 10:05 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Solok – Tradisi Maanta Bubua menjadi salah satu prosesi adat yang masih dilestarikan dalam rangkaian upacara pernikahan masyarakat Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Prosesi ini dilaksanakan pada hari kedua setelah pesta pernikahan, ketika pihak anak daro bersama keluarga sesuku, bako, dan kerabat mengunjungi rumah mempelai pria sebagai simbol mempererat hubungan kekeluargaan.
Sebelum pelaksanaan Maanta Bubua, keluarga mempelai perempuan terlebih dahulu menggelar musyawarah atau barundiang sebagai bagian dari persiapan. Selanjutnya, kaum ibu bersama istri niniak mamak dan sanak keluarga bergotong royong memasak serta menyusun berbagai hidangan adat yang akan dibawa ke rumah mempelai pria.
Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan, silaturahmi, dan semangat gotong royong dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Berbagai makanan adat yang dibawa dalam prosesi Maanta Bubua memiliki makna filosofis. Lamang melambangkan pentingnya musyawarah dalam membina rumah tangga, pinyaram menjadi simbol kepemimpinan kepala keluarga, sedangkan galamai menggambarkan ketulusan dan keteguhan hati.
Selain itu, randang melambangkan kebesaran nagari, nasi kuning menjadi tanda berakhirnya masa lajang anak daro, sementara hidangan lain seperti ikan, ayam, telur balado, dan pergedel kentang menjadi simbol persaudaraan, kesederhanaan, serta harapan terciptanya mufakat dalam keluarga.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan bararak, yakni iring-iringan anak daro beserta keluarga menuju rumah mempelai pria dengan mengenakan pakaian adat. Para ibu membawa hidangan adat di atas kepala menggunakan wadah tradisional seperti cambuang, baki, dan piring.
Setibanya di rumah mempelai pria, rombongan disambut dengan pepatah-petitih adat sebelum kedua keluarga duduk bersama dan menikmati hidangan sebagai lambang penerimaan serta penyatuan dua keluarga.
Setelah seluruh rangkaian selesai, pihak keluarga mempelai pria mengembalikan wadah pembawa makanan yang telah diisi buah tangan atau anggun-anggun, seperti gelas, piring, dan cambuang.
Tradisi Maanta Bubua tidak hanya menjadi bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga mencerminkan nilai adat Minangkabau yang menjunjung tinggi musyawarah, kebersamaan, penghormatan antarkeluarga, serta pelestarian warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (ER/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....