Suntiang Pisang Saparak Warisan Budaya Payakumbuh

  • 07 Sep 2026 09:57 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Payakumbuh – Suntiang Pisang Masak Saparak atau yang juga dikenal sebagai Suntiang Pisang Masak Saporak merupakan salah satu hiasan kepala tradisional pengantin perempuan Minangkabau yang khas dan langka.

Berasal dari wilayah Luak Limopuluah, khususnya Kota Payakumbuh, seperti Nagari Koto Nan Gadang dan Taram, suntiang ini memiliki nilai sejarah serta menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Berbeda dengan suntiang gadang yang umum digunakan saat ini, Suntiang Pisang Masak Saparak memiliki bentuk yang lebih sederhana namun tetap menampilkan keindahan klasik. Susunan hiasannya cenderung lebih pipih dan bertingkat ke arah belakang, terinspirasi dari bentuk daun dan rumpun pohon pisang.

Penampilannya yang anggun mencerminkan busana anak daro Minangkabau pada masa lampau, sebagaimana terekam dalam dokumentasi sejarah Payakumbuh pada awal 1900-an.

Nama Suntiang Pisang Masak Saparak diambil dari istilah "pisang saparak" yang berarti pisang serumpun atau sekebun. Rumpun pisang menjadi simbol kesuburan, kebersamaan, dan saling menopang antarsesama. Filosofi tersebut juga menggambarkan peran perempuan Minangkabau sebagai Bundo Kanduang yang diharapkan mampu memberikan manfaat, ketangguhan, serta meninggalkan warisan kebaikan bagi keluarga dan kaumnya.

Selain memiliki nilai estetika, suntiang ini juga mengandung pesan moral yang diwariskan secara turun-temurun. Filosofi pohon pisang yang hanya mati setelah berbuah menjadi simbol pengabdian dan kebermanfaatan dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut menjadikan Suntiang Pisang Masak Saparak bukan sekadar pelengkap busana pengantin, tetapi juga representasi adat dan budaya Minangkabau.

Di tengah berkembangnya tren busana pernikahan modern, keberadaan Suntiang Pisang Masak Saparak kini semakin langka. Berbagai upaya pelestarian terus dilakukan oleh budayawan, sanggar seni di Payakumbuh, serta Museum Adityawarman melalui kegiatan kajian dan inventarisasi.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlangsungan salah satu warisan budaya Minangkabau agar tetap dikenal dan lestari oleh generasi mendatang. (ER/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....