Tradisi Lelang Singgang Ayam di Solok Selatan

  • 10 Jun 2026 07:38 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Solok Selatan – Tradisi lelang singgang ayam masih terus dilestarikan oleh masyarakat Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini menjadi salah satu cara masyarakat mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid dan mushala, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Lelang singgang ayam biasanya digelar saat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nagari, terutama pada bulan Ramadan. Kegiatan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian acara MTQ dan selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.

Tradisi ini juga menjadi momentum bagi para perantau yang pulang kampung untuk merayakan Idulfitri. Melalui partisipasi dalam lelang, para perantau dapat menunjukkan kepedulian dan kontribusinya terhadap pembangunan kampung halaman, khususnya dalam mendukung pembangunan sarana ibadah.

Selain sebagai sarana penggalangan dana, lelang singgang ayam berfungsi sebagai media pemersatu masyarakat. Saat kegiatan berlangsung, warga dari nagari tetangga biasanya turut hadir untuk menyaksikan perlombaan MTQ dan mengikuti lelang. Kunjungan antarwarga tersebut telah menjadi tradisi yang memperkuat hubungan silaturahmi dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Dana yang terkumpul dari hasil lelang singgang ayam akan digunakan untuk pembangunan maupun perbaikan masjid dan mushala di lokasi pelaksanaan kegiatan. Masyarakat setempat meyakini bahwa tradisi ini merupakan kesempatan untuk beramal sekaligus berkontribusi dalam pembangunan fasilitas keagamaan.

Bagi masyarakat Solok Selatan, lelang singgang ayam tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan MTQ, tetapi juga merupakan kearifan lokal yang sarat nilai gotong royong dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat berperan dalam mendukung pembangunan masyarakat.

Untuk menjaga keberlangsungannya, tradisi lelang singgang ayam terus digelar setiap tahun di berbagai masjid dan mushala di Solok Selatan. Upaya pelestarian ini diharapkan dapat mempertahankan nilai-nilai kebersamaan, memperkuat silaturahmi, serta meneruskan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Melalui tradisi tersebut, masyarakat tidak hanya berhasil mengumpulkan dana pembangunan masjid, tetapi juga menjaga semangat persatuan dan gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Minangkabau.(ER/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....