Tradisi Mangaji Tamaik di Koto Malintang

  • 08 Jun 2026 10:50 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Agam - Masyarakat Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus melestarikan tradisi Mangaji Tamaik sebagai ritual adat bernuansa religius yang digelar setiap tahun. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas nikmat dan rezeki yang diperoleh sepanjang tahun, sekaligus sarana memanjatkan doa demi keselamatan dan keberkahan nagari.

Mangaji Tamaik umumnya dilaksanakan setelah masa panen raya atau menjelang musim turun ke sawah. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan masyarakat serta memotivasi para petani dalam menghadapi musim tanam berikutnya.

Pelaksanaan tradisi biasanya dipusatkan di tempat ibadah utama nagari, salah satunya di Masjid Nurul Huda, Jorong Rambai. Acara melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari niniak mamak, tokoh agama, pemerintah nagari, hingga warga setempat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, pengajian, dan zikir yang dipanjatkan untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta perlindungan bagi masyarakat dan nagari dari berbagai musibah. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan tausiah agama yang disampaikan oleh ulama atau buya guna memperkuat pemahaman keagamaan dan menanamkan nilai-nilai syukur dalam kehidupan bermasyarakat.

Usai prosesi keagamaan, masyarakat melaksanakan tradisi manjamba atau makan bersama. Dalam tradisi ini, istri penghulu dan tuan khatib membawa berbagai hidangan menggunakan jamba atau talam besar yang kemudian disantap bersama oleh masyarakat. Tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, serta bentuk tanggung jawab pemimpin adat terhadap kesejahteraan masyarakatnya.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) bersama tokoh masyarakat setempat menilai Mangaji Tamaik tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga berfungsi sebagai "pagar batin" nagari yang merefleksikan harapan akan kehidupan yang aman, damai, dan penuh keberkahan.

Tradisi Mangaji Tamaik merupakan implementasi nyata falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang memadukan nilai-nilai adat dengan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat. Berkat nilai budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya, tradisi ini kini tercatat sebagai salah satu atraksi budaya resmi di Desa Wisata Koto Malintang, Kabupaten Agam.

Melalui pelestarian tradisi Mangaji Tamaik, masyarakat Koto Malintang berharap nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kecintaan terhadap warisan budaya leluhur dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.(ER)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....