Kolintang Siapkan "La Vie en Rose" Versi Keroncong untuk Penampilan di Paris
- 20 Sep 2026 13:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kolintang Indonesia akan tampil di Paris, Prancis pada tanggal 1 Oktober 2026 dengan membawakan repertoar lintas genre yang menggabungkan musik Prancis dan keroncong Indonesia.
- Salah satu lagu yang akan ditampilkan adalah "La Vie en Rose" dengan aransemen khusus yang memadukan dua tradisi musik yang berbeda sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kolintang Indonesia menyiapkan repertoar lintas genre untuk penampilan di Paris, Prancis, pada 1 Oktober 2026. Salah satu materi yang disiapkan adalah La Vie en Rose dengan aransemen yang memadukan musik Prancis dan keroncong Indonesia.
Komponis dan etnomusikolog Franki Raden mengatakan kolintang memiliki karakter fleksibel karena menggunakan tangga nada diatonis. Kondisi tersebut membuat kolintang dapat memainkan berbagai jenis musik tanpa meninggalkan karakter permainan tradisinya.
"Kolintang itu sebenarnya masih sebuah jenis musik folklor, tetapi kini sudah berkembang menjadi musik yang lebih umum,” ujarnya, Minggu 20 September 2026. “Kolintang bisa memainkan berbagai jenis musik, ini berbeda dengan musik tradisional yang asli.”
Menurut Franki, cara memainkan kolintang masih mempertahankan karakter musik tradisi. Sementara tangga nadanya telah berkembang menggunakan sistem diatonis sehingga memungkinkan repertoarnya lebih beragam.
"Terutama tangga nadanya sudah menjadi tangga nada diatonis sehingga mereka menjadi sangat fleksibel,” ujarnya. “Namun, dalam cara bermainnya masih sangat otentik, masih musik tradisi.”
Untuk penampilan di Paris, PINKAN Indonesia menyiapkan sejumlah lagu dari genre berbeda. Repertoar tersebut mencakup musik tradisional, jazz, klasik, hingga lagu yang dikenal masyarakat Prancis.
Franki menyebut La Vie en Rose menjadi salah satu lagu yang akan dimainkan. Selain itu, ada Rondo Alla Turca karya Mozart yang juga dipilih karena sudah dikenal luas.
Pemilihan lagu tersebut juga mempertimbangkan tingkat familiaritas pendengar. Menurut dia, lagu yang sudah dikenal dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat asing untuk menikmati suara kolintang.
"Sedangkan yang lagu popnya itu memang harus lagu Prancis untuk menciptakan surprise (kejutan),” ucapnya. “Lagu itu digarap dengan aransemen yang sangat menarik sehingga nantinya akan mengejutkan para pendengar.”
Kejutan tersebut adalah lagu La Vie en Rose yang akan dimainkan dengan sentuhan musik keroncong. Franki menyebut perpaduan tersebut menjadi bentuk pertemuan antara budaya musik Prancis dan Indonesia.
Menurut dia, konsep tersebut memadukan lagu Prancis dengan warna musik Indonesia. Dengan demikian, kolintang tidak hanya memainkan lagu asing, tetapi juga memberikan identitas baru melalui aransemen.
Franki menambahkan keunikan kolintang terletak pada material instrumennya yang seluruhnya menggunakan kayu. Itulah yang membuat kolintang berbeda dari orkestra maupun band yang menggunakan beragam jenis instrumen.
"Kalau kita tahu alat kolintang itu kan jenis bahannya sama semua dari kayu,” ujarnya. “Ini sebuah ensemble musik kayu yang membedakan dengan, misalnya, orkestra yang alatnya macam-macam.”
Franki menilai penggunaan tangga nada diatonis juga membuat kolintang relatif mudah diterima pendengar yang terbiasa dengan musik Barat. Itulah yang menjadi pintu masuk untuk mengenalkan warna musik kolintang kepada pendengar yang baru pertama kali mendengarnya.
"Karena mereka menggunakan tangga nada diatonik sehingga musik yang keluar orang Barat sangat familiar," katanya. "Hanya tinggal lagunya saja yang mungkin tidak semuanya mereka kenal."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....