Kolintang Minahasa Bawa Misi Diplomasi Budaya Indonesia ke UNESCO Paris
- 17 Sep 2026 17:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kolintang Minahasa menuju UNESCO Paris Membawa nama Indonesia dalam pertunjukan budaya di Paris sekaligus menjalankan misi diplomasi budaya untuk memperkenalkan kekayaan Nusantara.
- Konsep Jembatan Budaya Kolintang ditampilkan bukan sekadar sebagai alat musik tradisional, tetapi sebagai jembatan antara budaya Indonesia dan masyarakat internasional.
- Sejalan dengan Pemajuan Kebudayaan Kegiatan ini diharapkan turut mendukung semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Grup Kolintang Rhythm of Minahasa (RoM) tengah mempersiapkan penampilan di Paris, Prancis, pada 27 September-3 Oktober 2026, dalam agenda UNESCO dengan membawa misi diplomasi budaya Indonesia. Pertunjukan tersebut tidak sekadar menampilkan musik tradisional, tetapi juga memperkenalkan kekayaan seni Nusantara melalui konsep Jembatan Budaya.
Perwakilan Rhythm of Minahasa, Ferdinand Soputan, menyampaikan penampilan di UNESCO menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan alat musik kayu tradisional Minahasa yang dapat memainkan beragam genre dan nada dari berbagai belahan dunia.
"Ini suatu kebanggaan buat kami, dan tentunya kehadiran kami bukan hanya sekadar mempertunjukkan musik, tapi adalah bagian misi diplomasi budaya untuk kita memperkenalkan keindahan Nusantara, warisan budaya kita," kata Ferdinan dalam konferensi pers “Kolintang Goes To Paris” di Jakarta, Kamis, 17 September 2026.
Menggabungkan Musik Tradisional dan Repertoar Dunia
Dalam persiapan menuju Paris, RoM telah menyusun repertoar lagu yang dirancang untuk memperkenalkan identitas kolintang. Sekaligus, membangun kedekatan dengan penonton internasional.
Pertunjukan akan mencakup lagu-lagu daerah Nusantara yang berakar pada identitas budaya Minahasa dan Sulawesi Utara. Repertoar tersebut diharapkan dapat memperdengarkan karakter suara asli kolintang serta memperkenalkan akar tradisi alat musik tersebut.
Selain lagu-lagu daerah, RoM juga menyiapkan satu karya klasik dunia dengan aransemen orkestrasi kompleks. Materi tersebut akan menjadi ruang bagi para pemain untuk menunjukkan keterampilan individu dan kemampuan kolintang dalam memainkan komposisi musik dengan tingkat kompleksitas tinggi.
"Di sini kami memperlihatkan skill dan keterampilan bermain dari masing-masing individual, sehingga kolintang yang berlabel tradisional adalah instrumen yang berkelas dunia," ujar Ferdinan, yang juga Ketua Ikatan Pelatih Kolintang Indonesia (Ipkolindo) ini.
RoM juga mempersiapkan lagu populer yang dikenal masyarakat lokal di Paris. Pemilihan repertoar tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi budaya melalui musik yang telah akrab bagi audiens setempat.
Menurut dia, lagu populer tersebut diharapkan dapat menjadi kejutan bagi penonton ketika dimainkan menggunakan alunan kolintang.
Membawa Wajah Indonesia yang Progresif
Guru Besar Etnomusikologi, Prof Frengky Raden, mengatakan, konsep Jembatan Budaya menjadi landasan utama penampilan grup Kolintang Rhythm of Minahasa. Melalui konsep ini, kolintang ditampilkan sebagai alat musik tradisional yang memiliki fleksibilitas untuk berkolaborasi dengan beragam genre dan musisi.
Grup tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan musisi lokal di Paris apabila kondisi memungkinkan. Kolaborasi itu diharapkan menunjukkan keterbukaan kolintang terhadap berbagai tradisi musik dunia.
"Harapan kami mempertunjukkan wajah Indonesia yang progresif, namun tidak menghilangkan tradisi," ujar Frengky yang akan mendampingi tim ke Prancis.
Penampilan di Paris diharapkan tidak hanya memperkenalkan kemampuan musikal kolintang. Namun, juga menyampaikan kehangatan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Kolintang Tidak Lagi Hanya Milik Minahasa
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN) Indonesia, Penny Iriana Marsetio, menegaskan bahwa perkembangan kolintang telah melampaui wilayah asalnya di Minahasa. Hal tersebut terlihat dari keberadaan perwakilan organisasi pelatih kolintang di sejumlah daerah Indonesia.
Beberapa wilayah yang disebutkan antara lain: Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra, Banten, Bali, dan Sulawesi Utara. "Artinya bahwa kolintang ini sudah bukan hanya milik orang Minahasa, tetapi sudah menjadi milik Indonesia," kata Penny.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi pemain kolintang. Karena itulah, para personel yang akan tampil di Paris berasal dari generasi muda dan sebagian besar juga berperan sebagai pelatih yang tergabung dalam organisasi Ipkolindo.
Keterlibatan generasi muda tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya. Sekaligus, mendukung semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Melalui penampilan di UNESCO Paris, grup Kolintang Rhytim of Minahasa berharap dapat memperlihatkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Sekaligus, memperkuat posisi kolintang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia di panggung internasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....