Apa Itu Golongan Tua dan Golongan Muda di Peristiwa Rengasdengklok?
- 06 Agt 2026 11:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peristiwa Rengasdengklok menunjukkan perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda terkait waktu pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
- Kekalahan Jepang terhadap Sekutu pada 15 Agustus 1945 menjadi pemicu utama terjadinya perbedaan pandangan mengenai strategi deklarasi proklamasi kemerdekaan.
- Golongan Muda menginginkan kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa bergantung pada Jepang, sedangkan Golongan Tua memilih berhati-hati melalui prosedur resmi lewat sidang PPKI.
RRI.CO.ID, Jakarta – Peristiwa Rengasdengklok menjadi bagian penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Peristiwa tersebut memperlihatkan perbedaan pandangan antara golongan tua dan golongan muda mengenai waktu pelaksanaan proklamasi.
Perbedaan muncul setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Kekalahan Jepang memunculkan perdebatan mengenai cara terbaik memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Melansir Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan, golongan tua dipimpin Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo. Mereka berpendapat proklamasi sebaiknya dilakukan melalui mekanisme PPKI bentukan Jepang.
Sikap tersebut didasarkan pertimbangan menjaga ketertiban dan menghindari bentrokan dengan tentara Jepang. Golongan tua menilai langkah proklamasi memerlukan perhitungan politik serta keamanan yang matang.
Sementara itu, tokoh golongan muda yang mendorong percepatan proklamasi antara lain Sutan Sjahrir, Wikana, Sukarni, Chaerul Saleh, dan Darwis. Mereka mendesak proklamasi segera dilaksanakan tanpa melibatkan PPKI bentukan Jepang.
Golongan muda menilai kemerdekaan harus lahir atas kehendak bangsa Indonesia sendiri. Mereka khawatir keterlibatan PPKI menimbulkan kesan kemerdekaan merupakan pemberian Jepang.
Karena perbedaan itu, golongan muda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Langkah tersebut dilakukan untuk mendesak Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang.
Setelah Achmad Soebardjo menjamin proklamasi akan dilaksanakan secepatnya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....