HPK: Kongres Kebudayaan Nusantara Hadir agar Bangsa Tak Kehilangan Jati Diri

  • 30 Jul 2026 23:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 digelar untuk menghidupkan kembali kesadaran terhadap akar kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia.
  • Hadi Prajoko menilai pelestarian memori peradaban Nusantara memerlukan keterlibatan masyarakat adat, pelaku budaya, dan penghayat kepercayaan.
  • Kongres akan berlangsung pada 8 Agustus 2026 di Pendopo Kabupaten Malang dengan melibatkan ribuan peserta dari berbagai entitas kebudayaan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 dihadirkan sebagai upaya menghidupkan kembali kesadaran terhadap akar kebudayaan bangsa Indonesia. Forum tersebut diproyeksikan menjadi ruang bersama bagi berbagai entitas budaya untuk merumuskan arah kebudayaan nasional.

“Pemerintah memang pernah mengadakan program kebudayaan, tapi yang hadir bukan masyarakat adat atau pelaku seni. Mereka tidak bisa membuka memori-memori kebudayaan bangsa ini yang merupakan perjalanan keperibadian kita sebagai bangsa,” kata Ketua Umum Pusat Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Dr. Hadi Prajoko, saat berbincang bersama Pro3 RRI, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Kongres tersebut merupakan kelanjutan semangat yang telah dirintis para pendahulu bangsa di abad ke-18. Menurutnya, perjuangan kemerdekaan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga membawa misi spiritual, budi, dan rasa nurani.

Hadi menilai pelaksanaan forum kebudayaan pada masa lalu belum sepenuhnya melibatkan pelaku adat, seniman, maupun para sesepuh. Akibatnya, banyak pandangan masyarakat mengenai perjalanan kebudayaan Nusantara belum terakomodasi secara menyeluruh.

“Kebanyakan para peneliti, arkeolog, dan budayawan masih belum bisa mengungkap jejak memori bangsa kita yang sebenarnya. Banyak kajian dari luar yang menganggap sejarah kita seakan dari bangsa luar, seperti Eropa, Timur Tengah, Cina, India,” ucapnya.

Ia juga menyoroti masih terbatasnya literasi yang membuat jejak kebudayaan bangsa sulit dipahami secara utuh. Kondisi tersebut dinilai menyebabkan masyarakat belum mampu membaca kembali perjalanan kepribadian bangsa melalui warisan budayanya.

Menurut Hadi, memori peradaban Nusantara masih tersimpan di kalangan pujangga, empu, masyarakat adat, dan para penghayat kepercayaan. Karena itu, Kongres Kebudayaan Nusantara diharapkan menjadi momentum membuka kembali ruang kebudayaan agar bangsa tidak kehilangan jati dirinya.

“Persoalan ini perlu kita sampaikan kepada negara, bangsa, dan para pemimpin kita agar mulai membuka ruang. Supaya kita tidak lagi menjadi bangsa ‘amnesia’, tapi menjadi bangsa mulia yang bisa menemukan akar kesejatian kebudayaan kita,” ucapnya.

Hadi menambahkan berbagai hasil penelusuran selama puluhan tahun menunjukkan masih banyak jejak peradaban Nusantara yang belum terungkap. Ia menilai warisan pengetahuan yang dijaga masyarakat adat dan penghayat kepercayaan perlu mendapat perhatian lebih.

Sementara itu, hingga saat ini, persiapan Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 terus dimatangkan. Seluruh entitas kebudayaan bangsa, mulai dari pelaku seni hingga generasi muda akan diundang untuk memeriahkan acara.

“Kita mengundang penghayat kepercayaan, masyarakat adat, pelaku seni tradisi, raja dan sultan, keraton, dan civitas akademika perguruan tinggi. Selain itu, kita juga mengundang generasi muda yang mencintai kebudayaan bangsanya,” ucap Sekretaris Jenderal Pusat Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Agung Rizkhi Zaifudhin, dalam kesempatan yang sama.

Agung menjelaskan Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 akan berlangsung di Pendopo Kabupaten Malang pada 8 Agustus 2026. Hingga tahap persiapan, jumlah peserta yang mendaftar telah mencapai sekitar seribu orang dan mendekati dua ribu peserta. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....