Ketahui Sejarah Revitalisasi Cagar Budaya Stasiun Semarang Tawang

  • 30 Jul 2026 11:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo Subianto akan meresmikan renovasi tahap pertama Stasiun Semarang Tawang pada Kamis, 30 Juli 2026, sebagai bagian dari upaya pelestarian cagar budaya.
  • Stasiun Semarang Tawang adalah bangunan bersejarah yang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij pada 1911 dan diresmikan pada 1914.
  • Revitalisasi stasiun ini bertujuan untuk melestarikan warisan sejarah Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas layanan transportasi kereta api.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto akan meresmikan renovasi tahap pertama bangunan cagar budaya Stasiun Semarang Tawang di Semarang, Kamis, 30 Juli 2026. Revitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan sejarah sekaligus peningkatan kualitas layanan transportasi kereta api.

Megutip laman Sekretariat Negara, Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu stasiun bersejarah di Indonesia. Bangunan ini dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1911 dan mulai diresmikan pada 1914.

Stasiun tersebut dirancang oleh arsitek Belanda Slofh-Blaauwboer. Bangunan tersebut telah berstatus sebagai cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW007/MKP/2010.

Revitalisasi tahap pertama dikerjakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 4 Semarang selama 240 hari. Revitalisasi dilakukan sejak 5 Mei hingga 30 Desember 2025 lalu.

Proyek tersebut dilaksanakan oleh PT KA Properti Manajemen dengan pengawasan PT Mitra Giatama Lima. Nilai kontrak renovasi cagar budaya tersebut mencapai Rp12,39 miliar.

Seluruh pekerjaan dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah pelestarian bangunan cagar budaya. Beberapa pekerjaan yang dilakukan pada tahap pertama ini meliputi:

  • Penataan ruang tunggu luxury.
  • Penataan ruang VIP.
  • Revitalisasi hall utama.
  • Perbaikan selasar.
  • Peningkatan sistem drainase.

Perbaikan drainase menjadi salah satu fokus utama. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak banjir rob yang selama ini kerap menggenangi kawasan Stasiun Tawang.

Upaya revitalisasi juga mempertimbangkan berbagai tantangan lingkungan di Kota Semarang. Kawasan Pantura, termasuk sekitar Stasiun Tawang, mengalami penurunan muka tanah sekitar 10-12 sentimeter setiap tahun.

Selain itu, riset WRI Indonesia pada 2025 mencatat sekitar 569,07 kilometer (10,60 persen) ruas jalan di Kota Semarang berisiko terdampak banjir rob. Wilayah yang paling rentan antara lain Semarang Utara, Semarang Timur, Genuk, Gayamsari, dan Tugu.

Stasiun Semarang Tawang juga memiliki nilai sejarah penting bagi perjalanan bangsa. Pada 10 September 1945, stasiun ini menjadi titik keberangkatan Kereta Luar Biasa menuju Bandung.

Sebulan kemudian, pada Oktober 1945, Stasiun Tawang menjadi tempat berhentinya kereta yang membawa Presiden pertama RI Soekarno. Saat itu Presiden Soekarno hendak melakukan perundingan gencatan senjata Pertempuran Lima Hari Semarang.

Melalui revitalisasi tersebut, pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara pelestarian sejarah dan modernisasi transportasi nasional. Langkah ini juga sejalan dengan target Kementerian Kebudayaan untuk mempercepat pencatatan dan penetapan 10 ribu cagar budaya nasional hingga 2030.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....