Mengenal Ritual Jamasan Pusaka Satu Suro, Begini Prosesinya
- 16 Jun 2026 11:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Jamasan pusaka merupakan tradisi sakral masyarakat Jawa yang dilakukan setiap 1 Suro untuk membersihkan dan merawat benda pusaka, terutama keris, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
- Ritual ini mengandung makna filosofi penyucian diri, dengan rangkaian ubo rampe seperti jajan pasar, bunga, wewangian, serta doa bersama atau tumpengan sebagai simbol rasa syukur.
- Prosesi jamasan pusaka meliputi beberapa tahapan penting, yakni Susilaning Nglolos Dhuwung, Mutih, Warangan, dan Keprok, yang bertujuan membersihkan, melindungi, serta menjaga nilai budaya dan spiritual pusaka.
RRI.CO.ID, Jakarta - Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro merupakan waktu yang sakral. Berbagai tradisi digelar pada bulan pertama dalam penanggalan Jawa ini.
Salah satunya ritual jamasan pusaka, masyarakat Jawa pasti sudah tidak asing dengan ritual ini. Ritual sakral ini digelar pada 1 Suro setiap tahunnya. Banyak daerah di pulau Jawa menggelar ritual jamasan pusaka.
Lantas apa penjelasan dari Jamasan Pusaka? Yuk, mengenal singkat apa itu ritual jamasan pusaka.
Apa Itu Jamasan Pusaka?
Dilansir dari situs resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Ritual jamasan pusaka adalah mencuci benda pusaka berupa keris atau senjata dan peninggalan nenek moyang.
Jamasan pusaka merupakan warisan budaya yang menjadi kebanggaan dan identitas daerah. Kata "jamasan" berasal dari bahasa Jawa Kromo Inggil yang memiliki arti cuci, membersihkan, atau mandi. Sedangkan "pusaka" adalah sebutan bagi benda-benda yang dianggap keramat atau memiliki kekuatan tersendiri. Perawatan keris sebagai salah satu pusaka tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Dalam ritual jamasan pusaka, sebilah keris harus disucikan dalam prosesi sakral. Prosesi ini yang dilaksanakan setiap 1 Suro sebagai bentuk penghormatan.
Ubo rampe menjadi salah satu rangkaian ritual jamasan pusaka yang tidak boleh dilewatkan. Ubo rampe yang dimaksud adalah memberikan
1. Jajan pasar
2. Wewangian seperti dupa dan minyak, air kelapa, serta berbagai bunga-bungaan seperti kantil, mawar, dan melati.
Masyarakat Jawa juga melaksanakan tumpengan atau doa bersama sebagai wujud syukur dan menyucikan diri dalam ritual jamasan pusaka. Tumpengan menjadi pengingat untuk selalu berbuat baik dan bijaksana.
Pasalnya, membersihkan keris diibaratkan sebagai membersihkan diri sendiri. Bahkan, proses pembuatan keris pun mengajarkan nilai-nilai doa dan semangat kuat, kesabaran, ketelitian, serta ketekunan.
Keris juga memiliki banyak nilai filosofi kehidupan. Setiap komponen keris, mulai dari pesi (pegangan keris), gonjo, tikel alis, pijetan, hingga greneng.
Kompenen ini mengandung kisah yang menceritakan perjalanan mendalam kehidupan manusia. Tak heran, jamasan pusaka menjadi ritual budaya yang sangat dihormati dan dianggap sakral.
Tahapan Penting Prosesi Jamasan Pusaka
Prosesi jamasan pusaka memiliki beberapa tahapan penting. Berikut tahapan penting prosesi jamasan pusaka yang dilakukan setiap 1 Suro.
1. Susilaning Nglolos Dhuwung
Pertama-tama, penjamas atau perawat benda pusaka akan melakukan tahapan ini. Di mana, penjamas akan memberikan penghormatan kepada pembuat dan pemilik pusaka.
2. Mutih
Kemudian dilakukan mutih, yaitu pusaka dibersihkan dari kotoran dan karat. Pembersihan pusaka menggunakan campuran abu dari arang kayu jati, jeruk nipis, dan deterjen.
3. Warangan
Dalam proses ini, pusaka akan direndam. Perendaman pusaka dilakukan di dalam air campuran khusus batu warangan dengan air perasan jeruk nipis.
Akun YouTube Museum Senobudoyo menjelaskan, batu warangan merupakan batu dengan campuran kandungan arsen, kapur, dan belerang. Namun, kini diganti dengan arsen.
Tujuan awal warangan untuk menampilkan pamor pada koleksi keris. Caranya, air perasan jeruk nipis dan arsen digosokkan pada koleksi keris secara searah menggunakan kuas.
4. Keprok
Keris kemudian dicuci menggunakan sabun dan air mengalir untuk menghilangkan sisa cairan yang mengandung asam. Setelah bersih, pusaka dikeringkan dengan kain.
Lalu melalui proses keprok dan dijemur di bawah sinar matahari beberapa waktu. Setelah kering, permukaan pusaka kembali diberi warangan dengan cara dioleskan berkali-kali.
Warangan yang terbuat dari arsenik bertujuan melindungi pusaka dari karat. Sebagai sentuhan terakhir, pusaka diberi minyak dan wewangian dari sari mawar, melati, atau cendana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....