Wamen PPPA Dorong Pemanfaatan Potensi Budaya dan Pangan Lokal NTT
- 14 Jun 2026 06:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menilai NTT memiliki potensi besar melalui kekayaan budaya, pangan lokal, dan sumber daya alam bernilai ekonomi berkelanjutan.
- Veronica menyoroti potensi jagung bose, sorgum, rempah-rempah, serta bambu sebagai komoditas unggulan yang mendukung ekonomi hijau dan ketahanan pangan.
- Pelestari Arsitektur Nusantara Yori Antar menyebut perempuan penenun berperan sebagai tulang punggung ekonomi keluarga sekaligus penjaga tradisi dan budaya daerah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan menilai Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan potensi besar pada berbagai sektor. Potensi tersebut mencakup kekayaan budaya, pangan lokal, serta sumber daya alam bernilai ekonomi berkelanjutan masyarakat.
Menurutnya, masyarakat NTT memiliki keragaman pangan yang tidak bergantung pada konsumsi beras semata. Beberapa daerah masih mempertahankan jagung bose dan sorgum sebagai makanan pokok yang bernilai gizi tinggi.
"Melalui kegiatan ini, kita ingin menunjukkan bahwa budaya pangan Nusa Tenggara Timur sangat kaya dan beragam. Masyarakat tidak hanya mengonsumsi beras, tetapi juga jagung bose dan sorgum yang bernilai gizi tinggi," katanya saat menghadiri peresmian pameran Weaving Wonders: The Spirit of NTT, Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Juni 2026.
Ia menilai rempah-rempah dan bahan pangan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan masa depan. Selain mendukung ketahanan pangan, komoditas tersebut juga dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat di daerah.
Selain sektor pangan, ia menyoroti pemanfaatan bambu yang dikelola kelompok perempuan sebagai produk bernilai tambah berkelanjutan. Bambu dinilai memiliki manfaat lingkungan karena mampu menyerap air dan dimanfaatkan hampir tanpa menghasilkan limbah.
Menurutnya, seluruh bagian bambu dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk bahan bangunan hingga produk ramah lingkungan. Daun bambu bahkan dapat diolah menjadi biochar yang memiliki manfaat bagi pengelolaan lingkungan dan pertanian.
"Bambu memiliki potensi besar karena dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan mendukung konsep pembangunan ramah lingkungan modern. Seluruh bagiannya bernilai ekonomi, mulai batang hingga daun yang dapat diolah menjadi produk bermanfaat," ucapnya.
Ia menambahkan kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah diperlukan untuk memperkuat pemanfaatan sumber daya lokal. Dukungan regulasi yang tepat dinilai dapat mendorong lahirnya produk unggulan berbasis potensi daerah berkelanjutan.
Ia berharap bahan baku lokal dari Nusa Tenggara Timur dapat menjadi bagian penting pembangunan masa depan nasional. Potensi tersebut mencakup sektor pangan, desain bangunan, serta produk ramah lingkungan yang memiliki daya saing.
Sementara itu, Pelestari Arsitektur Nusantara, Yori Antar menilai para perempuan penenun memiliki peran penting dalam menopang perekonomian keluarga. Menurutnya, mereka juga berada di garda terdepan dalam menjaga dan melestarikan tradisi serta budaya daerah.
"Para ibu penenun merupakan tulang punggung ekonomi keluarga sekaligus penjaga warisan budaya yang sangat berharga. Karena itu, kita perlu memberikan apresiasi lebih besar terhadap kain tenun sebagai karya budaya bangsa," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....