Perluas Pasar Ekspor, Kemenperin Dorong Diversifikasi Kain Tenun

  • 03 Jun 2026 06:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenperin terus mendorong pengembangan industri kain tenun nasional melalui diversifikasi produk dan peningkatan nilai tambah.
  • Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas pasar domestik dan ekspor serta memperkuat daya saing IKM tenun.
  • Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kain tenun memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri kain tenun nasional melalui program peningkatan nilai tambah dan diversifikasi produk. Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas akses pasar domestik dan ekspor, dan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) tenun.

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kain tenun merupakan salah satu subsektor industri tekstil yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Selain memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat, tenun Indonesia juga memiliki keunikan yang menjadi daya tarik di pasar global.

"Biasanya di benak masyarakat, wastra Indonesia identik dengan batik. Padahal, Indonesia juga memiliki kain tenun yang eksotis dan kaya ragam," kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut Agus, pengembangan industri tenun mendukung konsep sustainable fashion yang saat ini semakin diminati pasar global. Karena itu, diperlukan berbagai langkah strategis agar produk tenun semakin dikenal dan dimanfaatkan secara luas.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan potensi industri tenun nasional didukung oleh keberadaan 482 sentra IKM tenun. Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kemenperin, ekspor produk tenun ikat Indonesia pada 2025 mencapai 14,1 ton dengan nilai USD88.600.

"Capaian ini menunjukkan bahwa produk tenun tradisional memiliki peluang pasar internasional yang perlu terus ditingkatkan. Sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat," ujar Reni.

Meski demikian, Reni mengakui pelaku IKM tenun masih menghadapi tantangan dalam pengembangan desain dan diversifikasi produk. Menurutnya, perubahan tren pasar yang berlangsung cepat menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

Reni menjelaskan, selama ini kain tenun lebih banyak digunakan untuk kebutuhan formal dan tradisional, seperti busana pernikahan maupun upacara adat. Padahal, tenun memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

"Selama ini kain tenun lebih banyak digunakan untuk kebutuhan formal dan tradisional, seperti busana pernikahan maupun upacara adat. Padahal, tenun memiliki motif, warna, dan karakter bahan yang sangat potensial," katanya.

Direktorat Jenderal IKMA bekerja sama dengan Dekranasda Kota Kediri dan Universitas Ciputra Surabaya menyelenggarakan Bimbingan Teknis Diversifikasi Produk Tenun di Kota Kediri. Kegiatan sebagai bagian dari upaya pengembangan industri tenun.

Kegiatan tersebut mempertemukan 10 IKM fesyen dengan 10 IKM tenun untuk menghasilkan berbagai produk berbasis tenun. Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan mengatakan Kota Kediri merupakan salah satu daerah sentra tenun dengan kualitas produk terbaik dan harga kompetitif.

Menurutnya, diversifikasi produk menjadi langkah penting untuk memperluas pemanfaatan kain tenun. "Diversifikasi bukan berarti meninggalkan budaya," ujar Budi..

"Justru melalui kreativitas dan inovasi, nilai budaya yang terkandung dalam tenun dapat terus hidup. Semakin relevan dengan perkembangan selera pasar saat ini

Ia berharap kolaborasi antara IKM tenun dan IKM fesyen dapat terus berlanjut sehingga mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha. Selain itu, sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri fesyen dan tenun nasional.

"Kami berharap kolaborasi yang terbangun melalui kegiatan ini dapat terus berlanjut. Sehingga mampu meningkatkan daya saing IKM serta memperkuat rantai pasok industri fesyen dan tenun nasional," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....