Menteri Kebudayaan Fadli Percepat Repatriasi Keris Indonesia dari Belanda
- 24 Mei 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menyatakan pemerintah masih mendata keris Indonesia di Belanda dalam proses repatriasi benda budaya hasil kolonialisme.
- Proses pemulangan dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah Belanda dan riset asal-usul (provenance research) untuk membuktikan kepemilikan sah keris Indonesia.
- Pemerintah memprioritaskan pemulangan keris yang diduga merupakan rampasan perang, seperti keris Pangeran Diponegoro yang sebelumnya dikembalikan Belanda ke Indonesia pada 2020.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyampaikan bahwa pemerintah masih melakukan pendataan jumlah keris Indonesia yang berada di Belanda. Hal tersebut dilakukan dalam rangka proses repatriasi atau pemulangan kembali benda budaya.
Ia mengaku tidak terlalu hapal jumlahnya, namun keris-keris tersebut telah teridentifikasi dalam beberapa kelompok. Diantaranya keris Puputan Bali, Puputan Lombok, keris Hamengkubuwono, keris Perang Padri, keris Naga Siluman, serta keris Teuku Umar.
Menurutnya, sejumlah koleksi tersebut sudah masuk dalam data awal pemerintah. "Kalau jumlahnya saya tidak hafal, tapi pengelompokannya sudah ada. Ini yang sudah ada," katanya kepada wartawan usai acara Peringatan Hari Keris Nasional 2026, Museum Pusaka TMII, Jakarta Timur, Sabtu malam, 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan proses repatriasi dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah Belanda. Pendekatan riset (provenance research) juga dilakukan untuk membuktikan kepemilikan sah keris sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
"Jadi kita harus membuktikan bahwa keris itu milik kita. Melalui provenance research, riset asal-usul dari keris, itulah yang harus kita buktikan dan itu yang kita lakukan," ujarnya.
Ia menyatakan bahwa tidak semua koleksi keris yang ada di luar negeri akan dipulangkan ke Indonesia. Hal ini di karenakan ada juga koleksi keris yang diperoleh secara sah dan menjadi bagian dari koleksi museum atau institusi di negara lain.
Menurutnya, pemerintah saat ini fokus pada benda budaya yang diduga merupakan hasil rampasan perang. Atau bagian dari praktik kolonialisme pada masa lalu.
"Yang merupakan rampasan perang ketika itu, bagian dari rampasan kolonialisme. Kita akan kembalikan," katanya.
Sebelumnya, Raja Belanda Willem Alexander menyerahkan keris milik Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro kepada Presiden RI ketujuh, Joko Widodo. Keris itu diserahkan secara simbolis saat keduanya melakukan pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa, 10 Maret 2020.
Keris itu diketahui tersimpan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Sebab, keberadaan keris tersebut sempat menjadi teka-teki setelah Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKZ) bubar.
Sebelum dikembalikan ke Indonesia, berbagai proses penelitian dilakukan oleh para peneliti Belanda maupun Indonesia. Hal ini untuk membuktikkan kebenaran kepemilikan keris.
Keris itu sendiri didapatkan Belanda saat menangkap Pangeran Diponegoro setelah perang besar 1825-1830. Kolonel Jan-Baptist Cleerens kemudian memberikan keris Pangeran Diponegoro itu sebagai hadiah untuk Raja Willem I pada 1831.
"Saya ingin menyampaikan bahwa kita tentu tidak dapat menghapus sejarah, namun kita dapat belajar dari masa lalu. Kita jadikan pelajaran tersebut untuk meneguhkan komitmen kita untuk membangun sebuah hubungan yang setara," ucap Presiden RI Ketujuh, Joko Widodo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....