Mengenal Sembahyang Leluhur, Tradisi Ibadah Sakral saat Imlek

  • 16 Feb 2026 21:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang Tahun Baru Imlek, umat Konghucu memiliki tradisi penting berupa sembahyang kepada leluhur. Tradisi ini menjadi bagian dari ibadah sekaligus bentuk penghormatan terhadap orang tua dan nenek moyang yang telah wafat.

Di Indonesia, praktik sembahyang leluhur masih dijalankan banyak keluarga Tionghoa setiap perayaan Imlek. Selain bernilai spiritual, tradisi ini juga memperkuat ikatan keluarga lintas generasi.

Sembahyang leluhur merupakan praktik ibadah dalam ajaran Konghucu yang menekankan nilai bakti kepada orang tua. Tradisi ini biasanya dilakukan pada malam Imlek bersama anggota keluarga besar.

Dalam praktiknya, sembahyang dilakukan di rumah, rumah abu, atau pemakaman keluarga. Upacara biasanya dipimpin anggota keluarga tertua sebagai simbol penghormatan dan tanggung jawab keluarga.

Perlengkapan sembahyang meliputi dupa, lilin, papan arwah, serta makanan persembahan. Sebagian persembahan dibakar sebagai simbol penghantaran doa kepada leluhur.

Makna Spiritual Sembahyang Leluhur

Menurut ajaran Konfusius, bakti kepada orang tua merupakan dasar moral manusia. Nilai ini kemudian diwujudkan dalam penghormatan kepada leluhur melalui doa dan persembahan.

Kajian akademik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menjelaskan bahwa sembahyang leluhur menjadi refleksi hubungan spiritual. Antara generasi hidup dan pendahulunya untuk menumbuhkan kesadaran akan asal-usul keluarga.

Sembahyang kepada leluhur memiliki beberapa tujuan utama dalam ajaran Konghucu. Salah satunya mengenang jasa orang tua serta menjaga kesinambungan nilai keluarga.

Selain itu, umat Konghucu meyakini penghormatan kepada leluhur dapat membawa berkah, perlindungan, dan ketenteraman batin. Tradisi ini juga menjadi sarana refleksi moral bagi keluarga.

Waktu Pelaksanaan Sembahyang

Selain saat Imlek, sembahyang leluhur dilakukan pada waktu tertentu dalam kalender Kongzili. Misalnya tanggal 1 dan 15 setiap bulan lunar, serta hari wafat anggota keluarga.

Ada pula sembahyang khusus seperti Qing Ming atau ziarah makam, serta sembahyang akhir tahun. Semua momentum tersebut bertujuan memperkuat hubungan spiritual keluarga.

Sembahyang leluhur bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga tradisi budaya yang mempererat keluarga. Momen ini biasanya diikuti makan bersama setelah persembahan selesai.

Melalui tradisi ini, generasi muda dikenalkan nilai hormat kepada orang tua dan sejarah keluarga. Karena itu, sembahyang leluhur tetap lestari hingga kini sebagai bagian identitas budaya Tionghoa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....