HPK: Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 Lahir dari Aspirasi Pelaku Budaya
- 30 Jul 2026 23:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 berbeda karena lahir dari kesadaran kolektif berbagai entitas budaya, bukan semata forum yang diselenggarakan pemerintah.
- Kongres mengusung semangat Kongres Kebudayaan 1918 dan 1948, dengan membuka ruang dialog yang lebih inklusif bagi seluruh pelaku kebudayaan Indonesia.
- HPK menegaskan penghayat kepercayaan berperan menjaga memori peradaban Nusantara, sekaligus mendorong penguatan identitas bangsa melalui pelestarian nilai budaya dan warisan leluhur.
RRI.CO.ID, Jakarta - Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) terhadap Tuhan YME menilai Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 menghadirkan pendekatan berbeda dibandingkan forum sebelumnya. Kongres kali ini lahir dari kesadaran kolektif berbagai elemen kebudayaan untuk merumuskan arah pemajuan budaya Indonesia bersama.
Sekretaris Jenderal Pusat HPK, Agung Rizkhi Zaifudhin, mengatakan sebagian besar kongres kebudayaan sebelumnya diselenggarakan oleh pemerintah. Menurutnya, forum tersebut belum sepenuhnya mampu mengakomodasi aspirasi seluruh pelaku kebudayaan dari berbagai latar belakang Indonesia.
Ia menjelaskan Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 dibangun melalui kolaborasi lintas komunitas budaya tanpa membedakan asal maupun identitas setiap peserta bersama. Pendekatan tersebut diharapkan melahirkan rekomendasi yang lebih inklusif serta mencerminkan kebutuhan pelaku kebudayaan di berbagai daerah Indonesia.
"Kongres ini lahir dari kesadaran kolektif seluruh entitas kebudayaan bangsa sehingga setiap aspirasi memiliki ruang dialog yang setara bersama. Semangat tersebut melanjutkan nilai kebersamaan yang pernah tumbuh dalam Kongres Kebudayaan tahun 1918 dan 1948 setelah kemerdekaan Indonesia," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menambahkan semangat Kongres Kebudayaan Nusantara juga menghidupkan kembali tradisi musyawarah kebudayaan. Menurutnya, dialog terbuka menjadi fondasi penting dalam merumuskan arah pembangunan kebudayaan nasional yang lebih berkelanjutan dan inklusif bersama.
Ketua Umum Pusat HPK, Hadi Prajoko menegaskan penghayat kepercayaan memiliki peran penting menjaga kesinambungan memori peradaban Nusantara. Ia menyoroti banyak nilai budaya diwariskan secara lisan dan tetap dipelihara melalui tradisi yang bertahan hingga sekarang.
"Banyak jejak peradaban Nusantara masih tersimpan melalui para sesepuh, empu, dan penghayat kepercayaan yang menjaga tradisi turun-temurun bersama. Nilai luhur tersebut perlu dihadirkan kembali agar bangsa Indonesia semakin mengenal akar kebudayaannya secara utuh dan berkelanjutan," ucapnya.
Ia mengatakan perjalanan menelusuri jejak kebudayaan Nusantara telah dilakukannya selama lebih dari dua puluh enam tahun. Pengalaman tersebut memperlihatkan masih banyak warisan budaya yang belum terdokumentasikan secara utuh dalam berbagai kajian ilmiah nasional.
Ia menilai penguatan ruang dialog kebudayaan menjadi langkah penting untuk menghadirkan kembali pemahaman mengenai identitas bangsa Indonesia. Keterlibatan masyarakat adat dan penghayat kepercayaan dinilai mampu memperkaya perspektif dalam menyusun kebijakan kebudayaan nasional secara berkelanjutan.
"Negara perlu membuka ruang lebih luas bagi seluruh pelaku kebudayaan agar warisan leluhur tetap terjaga lintas generasi di Indonesia. Dengan begitu, bangsa Indonesia dapat menemukan kembali jati dirinya melalui pemahaman kebudayaan yang tumbuh dari akar peradaban Nusantara," katanya, menegaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....