Penerbangan Kembali Berjalan, tapi Udara di Bandara Soetta Masih Tak Aman
- 09 Sep 2026 23:43 WIB
- Bogor
Poin Utama
- PM2,5 masih tinggi: Kemenkes menemukan konsentrasi PM2,5 mencapai 63 µg/m³ di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, jauh di atas batas aman 25 µg/m³.
- Kasus ISPA mencapai 16.759: Hingga 6 September 2026, Kemenkes mencatat ribuan kasus ISPA di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota terdampak abu vulkanik.
- Warga diminta kurangi paparan: Masyarakat, terutama kelompok rentan, dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika berada di kawasan dengan partikulat tinggi.
RRI.CO.ID, Bogor - Aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta mulai berjalan, tetapi persoalan kualitas udara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian serius. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menemukan konsentrasi partikulat halus PM2,5 di sejumlah area bandara masih melampaui ambang aman bagi kesehatan.
Temuan tersebut diketahui dalam pemantauan langsung yang dilakukan Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono di sejumlah titik Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, 9 September 2026. Pemantauan dilakukan menggunakan particulate counter untuk mendeteksi konsentrasi partikel berukuran sangat kecil di udara.
Salah satu titik yang menunjukkan angka cukup tinggi berada di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta. Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi PM2,5 mencapai 63 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sedangkan batas aman berada di level 25 µg/m³.
Angka tersebut menunjukkan konsentrasi PM2,5 di lokasi itu lebih dari dua kali lipat ambang aman. Kondisi ini menjadi perhatian karena partikel halus dapat tetap berada di udara meskipun abu vulkanik tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Pemantauan kualitas udara juga dilakukan Kemenkes pada 8 September 2026 di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya. Pengukuran dilakukan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) menggunakan Air Quality Detector serta particulate counter.
PM2,5 Jadi Perhatian
Partikel PM2,5 menjadi perhatian karena memiliki ukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki kerentanan tertentu.
Kemenkes mengingatkan masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan di kawasan terdampak untuk mengurangi paparan partikulat. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan ketika kualitas udara belum kembali normal.
Masyarakat juga disarankan mengurangi kegiatan di luar rumah apabila konsentrasi partikulat masih tinggi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu perlu mendapat perhatian lebih dan sebaiknya meminimalkan aktivitas di luar ruangan.
Ribuan Kasus ISPA Tercatat
Dampak kesehatan dari sebaran abu vulkanik juga tercermin dari jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak. Data Kemenkes hingga 6 September 2026 mencatat 16.759 kasus ISPA secara kumulatif yang tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota.
Dari keseluruhan kasus tersebut, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun. Sementara itu, 12.988 kasus tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun.
Kemenkes juga mencatat kejadian ISPA pada 2026 berada pada level lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kondisi tersebut membuat pemantauan kesehatan masyarakat tetap diperlukan meskipun sejumlah aktivitas, termasuk penerbangan, mulai kembali berjalan.
Waspadai Gejala Gangguan Pernapasan
Masyarakat di wilayah yang masih terpapar abu vulkanik diminta tidak menganggap remeh munculnya gejala gangguan pernapasan. Batuk, sesak napas, iritasi saluran pernapasan, atau keluhan kesehatan lain setelah terpapar abu perlu mendapat perhatian.
Jika muncul gejala yang mengganggu, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya mengurangi paparan, menggunakan masker saat berada di luar ruangan, serta membatasi aktivitas ketika kualitas udara buruk dapat membantu menekan risiko kesehatan.
Kemenkes memastikan pemantauan kualitas udara dan dampak kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan paparan partikulat sekaligus memastikan perlindungan kesehatan masyarakat tetap menjadi prioritas di tengah pemulihan aktivitas di wilayah terdampak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....