Blame-Shifting, saat Pasangan Selalu Melempar Kesalahan

  • 10 Sep 2026 17:02 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Dalam hubungan, konflik merupakan hal yang wajar. Namun, persoalan bisa menjadi lebih rumit ketika setiap masalah selalu berakhir dengan satu pihak dituding sebagai penyebabnya. Kebiasaan mengalihkan tanggung jawab seperti ini dikenal dengan istilah blame-shifting.

Blame-shifting merupakan pola ketika seseorang memindahkan kesalahan atau tanggung jawab atas suatu persoalan kepada orang lain. Dalam hubungan pasangan, pola ini dapat terlihat ketika seseorang lebih sibuk mencari pihak yang harus disalahkan daripada membicarakan bagaimana masalah tersebut bisa diselesaikan.

Mengutip Psychology Today, kebiasaan terus menyalahkan pasangan dapat membuat konflik berjalan dalam lingkaran yang sama. Ketika seseorang merasa dituduh, respons yang muncul biasanya adalah membela diri dan berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Masalahnya, upaya untuk memenangkan perdebatan tersebut belum tentu menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, masing-masing pihak dapat semakin mempertahankan sudut pandangnya. Percakapan pun berubah menjadi pertarungan untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Psikolog klinis, Daniel S. Lobel, menyarankan agar percakapan tidak terus terjebak pada pertanyaan tentang siapa yang bersalah. Pembicaraan dapat diarahkan kembali pada persoalan yang sedang terjadi dan langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Mengalihkan pembicaraan ke solusi bukan berarti seseorang harus menerima semua tuduhan dari pasangan. Sikap tersebut lebih kepada menghentikan pola perdebatan yang tidak produktif dan mencari cara agar kedua pihak dapat berkontribusi dalam penyelesaian masalah.

Dalam menghadapi pola blame-shifting, seseorang juga dapat menetapkan batasan dalam komunikasi. Jika percakapan hanya berisi tuduhan, pembicaraan dapat dihentikan sementara dan dilanjutkan ketika kedua pihak sudah siap membahas masalah tanpa saling menyerang.

Penting pula untuk memahami bahwa tidak setiap pertengkaran atau tuduhan otomatis merupakan blame-shifting. Seseorang bisa saja menyampaikan kesalahan pasangannya dalam situasi tertentu tanpa bermaksud menghindari tanggung jawab. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang dan kecenderungan untuk selalu memindahkan kesalahan kepada pihak lain.

Blame-shifting juga berbeda dengan gaslighting. Gaslighting berkaitan dengan pola manipulasi yang dapat membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri. Sementara blame-shifting lebih berfokus pada pengalihan tanggung jawab atau kesalahan.

Karena itu, ketika menghadapi pasangan yang terus melempar kesalahan, fokus utama sebaiknya bukan memenangkan argumen. Hubungan justru membutuhkan ruang untuk membicarakan tanggung jawab masing-masing, memahami masalah, serta mencari solusi yang dapat dilakukan bersama.

Konflik dalam hubungan memang tidak selalu bisa dihindari. Namun, cara pasangan merespons konflik dapat menentukan apakah persoalan semakin besar atau justru menjadi kesempatan untuk memperbaiki komunikasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....