Potensi Besar Jeroan di tengah Tren Konsumsi Modern

  • 24 Apr 2026 14:51 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor: Konsumsi jeroan atau offal pernah menjadi bagian penting dalam tradisi kuliner berbagai budaya di dunia. Namun dalam beberapa dekade terakhir, minat terhadap bagian tubuh hewan selain daging otot mengalami penurunan, terutama di negara-negara maju.

Perubahan ini dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi modern yang lebih menyukai daging dengan rasa ringan dan tampilan bersih. Akibatnya, banyak orang merasa kurang nyaman dengan bentuk, rasa, dan tekstur jeroan yang dianggap tidak lazim.

Padahal, berkurangnya konsumsi jeroan turut berkontribusi terhadap meningkatnya limbah pangan. Sebagian besar tubuh hewan ternak yang sebenarnya masih dapat dimakan justru dibuang atau hanya dimanfaatkan untuk keperluan industri.

Dalam praktiknya, sebagian jeroan masih digunakan dalam produk olahan seperti kaldu, sosis, atau pakan ternak. Meski demikian, jumlah yang terbuang tetap cukup besar, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi sistem pangan saat ini.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa jeroan memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Meski tidak selalu kaya protein seperti daging otot, jeroan mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang jauh lebih padat.

Hati, misalnya, dikenal sebagai salah satu sumber nutrisi terbaik karena kaya zat besi, vitamin A, serta berbagai vitamin B. Kandungan tersebut berperan penting dalam menjaga energi tubuh, fungsi otak, dan kesehatan metabolisme.

Selain hati, organ lain seperti ginjal, jantung, dan limpa juga memiliki nilai gizi yang tidak kalah penting. Beberapa di antaranya bahkan disebut sebagai "multivitamin alami" karena kepadatan nutrisinya yang tinggi.

Di sisi lani, jeroan seperti otak dan usus memang belum banyak diteliti secara mendalam. Namun, diketahui bahwa bagian ini tetap mengandung vitamin B12, asam lemak omega-3, serta nutrisi lain yang bermanfaat bagi kesehatan saraf dan jantung.

Meski memiliki banyak keunggulan, konsumsi jeroan tidak dianjurkan untuk semua orang. Kelompok tertentu seperti ibu hamil, penderita asam urat, atau individu dengan gangguan ginjal perlu membatasi atau menghindarinya.

Bagi sebagian masyarakat, tantangan utama dalam mengonsumsi jeroan adalah faktor psikologis. Tekstur, aroma, dan bentuknya yang khas sering kali menimbulkan rasa enggan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa.

Untuk mengatasi hal ini, para ahli menyarankan pendekatan yang lebih kreatif dalam pengolahan. Jeroan dapat diolah menjadi hidangan yang lebih modern, misalnya dicampur dalam saus, sup, atau makanan cincang agar lebih mudah diterima.

Jeroan tidak hanya berpotensi mengurangi limbah pangan, tetapi juga menjadi sumber gizi yang terjangkau. Di tengah kebutuhan pangan global yang terus meningkat, pemanfaatan jeroan dapat menjadi solusi yang lebih berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....