Magister Terapan KDM IPB University Menekankan Value dalam Industri Kreatif
- 15 Agt 2026 14:39 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Ketua Program Studi Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media (KDM) Sekolah Vokasi IPB University, Dr. Willy Bachtiar, dalam sambutannya mengajak mahasiswa memperluas cara pandang terhadap kompetensi komunikasi. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi saja tidak lagi cukup.
Mahasiswa perlu memahami bagaimana komunikasi dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan yang berkembang di organisasi, masyarakat, dunia korporasi, maupun industri.
“Keinginan untuk menjadi lebih pintar berkomunikasi saya kira itu terlalu kecil. Berpikirlah lebih jauh untuk bagaimana kita mampu menggunakan komunikasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan di organisasi, di masyarakat, maupun juga secara umum di dunia korporasi ataupun industri,” ujar Dr. Willy, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Dr. Willy, perkembangan dunia profesional juga membutuhkan kompetensi yang semakin dinamis. Berbagai profesi seperti public relations practitioner, digital communication specialist, dan brand strategist membutuhkan individu yang tidak hanya mampu berkomunikasi, tetapi juga membaca persoalan dan menciptakan value dari persoalan yang belum terselesaikan. Karena itu, pendidikan komunikasi perlu memberikan pemahaman lebih luas mengenai perilaku manusia dan perubahan masyarakat akibat perkembangan teknologi.
“Pendidikan komunikasi tidak boleh hanya mengajarkan mahasiswa tentang bagaimana how to communicate, tetapi juga bagaimana how people behave, how technology transform society, dan lain sebagainya. Orang orang yang bisa menciptakan value dari persoalan yang belum terselesaikan hari ini ternyata mendapatkan nilai tambah yang luar biasa,” katanya.
Dr. Willy juga menyoroti perkembangan artificial intelligence yang semakin mampu membantu berbagai pekerjaan komunikasi, termasuk produksi konten. Kondisi tersebut, menurutnya, justru perlu mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis mengenai kompetensi manusia yang harus terus dikembangkan di tengah semakin canggihnya teknologi.
“Kalau mesin semakin pintar berkomunikasi, apa yang akan menjadi keunggulan kita sebagai manusia? Nah, ini yang tentu saja membutuhkan pemikiran kritis dari kita semua,” tutur Willy.
Sementara itu, Ketua Program Studi Sarjana Terapan Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University, Dr. Hudi Santoso, mengapresiasi kolaborasi yang telah terbangun antara Program Sarjana Terapan dan Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media. Menurutnya, kolaborasi tersebut perlu terus diperluas melalui kegiatan akademik, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama dengan dunia industri.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan akademik, riset, pengabdian kepada masyarakat, hingga kolaborasi dengan dunia industri,” ujar Dr. Hudi.
Menurut Hudi, guest lecture memiliki posisi penting dalam proses pembelajaran karena pendidikan komunikasi digital dan media tidak cukup hanya berhenti pada teori di ruang kelas. Mahasiswa perlu memahami bagaimana teori dan konsep komunikasi berhadapan dengan persoalan organisasi, perubahan perilaku publik, perkembangan teknologi, dinamika media, serta tuntutan industri yang terus bergerak.
“Kami berharap ke depan akan semakin banyak forum forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, praktisi, industri, serta organisasi profesi. Ruang ruang seperti ini perlu terus kita bangun untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman mahasiswa sekaligus semakin mendekatkan proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia profesional,” ucap Dr. Hudi.
Memasuki sesi utama, Laurentius Iwan mengajak peserta melihat perubahan lanskap informasi di era digital. Ia menjelaskan bahwa tantangan masyarakat saat ini telah bergeser. Jika sebelumnya seseorang harus berusaha mencari informasi, kini informasi hadir dalam jumlah yang sangat besar melalui berbagai platform. Tantangan utama justru terletak pada kemampuan menentukan informasi mana yang layak dipercaya, dipahami, dan memiliki makna.
“Tantangannya hari ini sebetulnya bukan bagaimana kita mencari informasi. Sekarang informasi itu berlimpah. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memilih dari platform platform tersebut atau sumber informasi yang hadir di hadapan kita, mana yang layak untuk kita percaya, mana yang layak untuk kita pahami, dan mana yang sebetulnya memberi makna untuk kita sebagai konsumen informasi,” kata Iwan.
Besarnya arus informasi tersebut tergambar dalam materi yang dipaparkan Iwan. Dalam 60 detik, sekitar 16.000 video diunggah ke TikTok, 138,9 juta reels diputar di Facebook dan Instagram, serta 5,9 juta pencarian dilakukan melalui Google. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan komunikasi hari ini bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan kemampuan untuk memilih, memahami, dan memberi makna terhadap informasi yang berlimpah.
Iwan juga mengajak peserta mempertanyakan siapa yang membentuk cara seseorang berpikir di ruang digital. Selain orang tua, teman, dan dosen, algoritma kini ikut menentukan informasi yang muncul di hadapan pengguna. Namun, ia mengingatkan bahwa pengguna juga memiliki peran karena aktivitas mencari, memilih, menonton, dan mengonsumsi konten turut memengaruhi informasi yang kemudian ditampilkan oleh platform.
“Apakah betul kita dipengaruhi oleh algoritma? Bukankah kita juga yang membuat dia muncul di hadapan kita?” ujar Iwan.
Dalam konteks organisasi, Iwan menjelaskan bahwa komunikasi menjadi strategis ketika organisasi tidak sekadar berbicara, tetapi mampu menentukan dengan sadar siapa yang perlu dipahami, persoalan apa yang penting, mengapa organisasi perlu bertindak, perubahan apa yang ingin dicapai, serta nilai apa yang ingin diciptakan. Materinya merangkum proses komunikasi strategis melalui lima elemen utama, yakni who, what, why, change, dan value.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....