Rupiah Melemah, Komisi XI DPR Soroti Dilema Sektor Moneter Indonesia
- 26 Apr 2026 09:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi XI DPR RI, Bertu Merlas menyoroti, dilema sektor moneter Indonesia di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.
- Upaya Bank Indonesia (BI) menahan laju pelemahan rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan, menurut Bertu, memiliki risiko ikutan
- Jika suku bunga terus naik, ekspansi usaha sektor riil berpotensi melambat yang pada akhirnya menghambat penyerapan tenaga kerja
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI, Bertu Merlas menyoroti, dilema sektor moneter Indonesia di tengah melemahnya nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah beberapa hari lalu, sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS.
Upaya Bank Indonesia (BI) menahan laju pelemahan rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan, menurut Bertu, memiliki risiko ikutan. Risiko ikutan itu, seperti pengetatan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.
"Jika suku bunga terus naik, ekspansi usaha sektor riil berpotensi melambat yang pada akhirnya menghambat penyerapan tenaga kerja. Ini berdampak buruk pada aktivitas usaha," kata politikus PKB ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 26 April 2026.
Oleh karena itu, ia meminta, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan keberlangsungan sektor riil. Dalam menjaga ekonomi tetap stabil, pemerintah perlu menjalankan tiga langkah strategis.
"Pertama memperkuat operasi pasar dan memastikan kelancaran distribusi bahan pokok agar tidak terjadi lonjakan harga spekulatif. Kedua memastikan penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran agar kelompok rentan tetap memiliki kemampuan konsumsi dasar," ucap Bertu.
Ketiga, kata Bertu, yakni memberikan kemudahan akses pembiayaan dan insentif fiskal. Tujuannya, agar sektor UMKM tetap produktif di tengah tekanan kurs.
“Mengendalikan inflasi adalah kunci utama, pemerintah harus memastikan pasokan aman dan harga stabil. Subsidi dan bantuan sosial harus benar-benar sampai ke tangan yang berhak agar daya beli rakyat tidak tergerus lebih dalam,” ujar Bertu.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang makin melemah. Intervensi pasar dilakukan supaya rupiah tidak turun semakin dalam.
Hari ini nilai tukar rupiah tembus Rp17.300 rupiah per dolar AS, turun sekitar 0,73 persen. Sementara indeks dolar AS stabil di kisaran level 98.
"Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional, " kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Kamis, 23 April 2026.
Menurut Destry, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang di kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen. "BI terus meningkatkan intensitas intervensi serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market," ucap Destry.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga daya tarik aset domestik. Terutama di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah.
"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar luar negeri atau offshore (ND ). Serta intervensi di pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata Destry menjelaskan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....