Tekanan Masih Berat, Rupiah Cenderung Melemah Hari Ini
- 24 Apr 2026 10:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rupiah masih cenderung melemah hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.30 WIB rupiah melemah 0,05 persen atau 9 poin menjadi Rp17.295 per dolar AS
- Rupiah masih tertekan karena harga minyak mentah kembali melonjak dan naiknya imbal hasil obligasi AS akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah
- Pelemahan rupiah masih sulit ditahan, meski indeks dolar relatif stabil di bawah level 99
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terpantau masih melemah terhadap dolar dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.30 WIB rupiah melemah 0,05 persen atau 9 poin menjadi Rp17.295 per dolar AS.
Pada perdagangan Kamis kemarin, rupiah ditutup turun 0,61 persen atau 105 poin menjadi Rp17.286 per dolar AS. "Rupiah diperkirakan akan kembali melemah terhadap dolar AS hari ini," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat, 24 April 2026.
Rupiah masih tertekan karena harga minyak mentah kembali melonjak dan naiknya imbal hasil obligasi AS akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Namun, kabar diperpanjangnya gencatan senjata Israel-Lebanon sampai tiga minggu ke depan, sedikit meredakan tekanan terhadap rupiah.
"Rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.200-Rp17.350 per dolar AS," ujar Lukman. Sedangkan indeks dolar AS hari ini, terpantau stabil di level 98,81.
Menurut Tim Mirae Asset Sekuritas, pelemahan rupiah masih sulit ditahan, meski indeks dolar relatif stabil di bawah level 99. "Secara year to date, rupiah memang termasuk underperformer di Asia, namun bukan yang terburuk," kata Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.
Mata uang rupee India dan lira Turki masing masing sudah melemah sekitar 4,5 persen dan 4,7 persen. Sedangkan penurunan rupiah sekitar 3,5 persen per 23 April 2026.
Sejumlah mata uang lain juga berkinerja kurang baik, seperti Won Korea, Peso Filipina, dan Baht Thailand. Mata uang tersebut melemah di kisaran 2–3 persen sejak awal tahun.
"Setiap mata uang membawa risikonya sendiri, India dengan defisit perdagangan dan impor energi besar. Turki dengan inflasi dan defisit transaksi berjalan dan Korea dengan perlambatan pertumbuhan dan arus keluar modal asing," ujar Rully.
Dalam konteks ini, tambahnya, pelemahan rupiah lebih mencerminkan kombinasi 'risk off' global dan kenaikan 'risk premium' domestik. "Jadi lebih karena potensi risiko, bukan karena krisis kebijakan ekstrem," ucap Rully.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....