Pemerhati: Kendaraan Listrik Redam Risiko Lonjakan Harga Minyak

  • 13 Mar 2026 00:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - INDEF menilai percepatan adopsi kendaraan listrik penting untuk mengurangi risiko lonjakan harga minyak dunia. Langkah ini dinilai strategis menjaga stabilitas fiskal serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov. Menurutnya, ketergantungan tinggi terhadap impor BBM menjadi risiko utama bagi ekonomi domestik.

“Ketergantungan tinggi terhadap BBM impor menjadi risiko besar bagi stabilitas fiskal. Dan ketahanan energi nasional,” ujar Abra, Jumat, 13 Maret 2026.

Lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Harga minyak Brent bahkan melonjak hingga 58 persen, menyentuh level US$116 per barel.

Harga tersebut jauh melampaui asumsi Indonesian Crude Price dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Kondisi ini berpotensi menekan postur fiskal apabila tren kenaikan terus berlanjut.

INDEF memperkirakan setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel meningkatkan defisit fiskal sekitar Rp6,8 triliun. Risiko tersebut dapat meningkat jika terjadi pelemahan rupiah dan kenaikan yield Surat Berharga Negara.

Pelemahan rupiah Rp100 per dolar AS dan kenaikan yield SBN 0,1 persen menambah tekanan fiskal. Tekanan tambahan terhadap defisit fiskal diperkirakan mencapai sekitar Rp9,5 triliun.

Menurut Abra, gejolak harga minyak berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga mempengaruhi kondisi fiskal negara.

Urgensi elektrifikasi transportasi juga terlihat dari terbatasnya cadangan operasional BBM nasional. Cadangan BBM Indonesia saat ini diperkirakan hanya berkisar 21 hingga 23 hari.

Angka tersebut masih jauh di bawah standar internasional yang umumnya mencapai lebih dari 90 hari. Karena itu, pengendalian konsumsi BBM dinilai semakin mendesak dilakukan.

Elektrifikasi transportasi dinilai menjadi salah satu strategi rasional mengurangi konsumsi BBM nasional. Langkah ini sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian global.

Data penggunaan kendaraan listrik selama 2021 hingga 2025 menunjukkan efisiensi energi signifikan. Penjualan listrik untuk EV mencapai 328 juta kWh dalam lima tahun terakhir.

Penggunaan energi tersebut mampu menghemat sekitar 1,3 juta barel BBM. Jumlah penghematan itu setara dengan konsumsi BBM nasional rata-rata dalam satu hari.

Menurut Abra, efisiensi energi kendaraan listrik terbukti jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Karena itu, percepatan transisi transportasi listrik dinilai semakin penting bagi Indonesia.

Pemerintah juga didorong memberikan stimulus lebih kuat untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....