ketika Tiga Media Menyusuri Nadi Ekonomi Bengkulu dari Pelabuhan Pulau Baai
- 21 Sep 2026 09:35 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Dari daratan, Pelabuhan Pulau Baai mungkin hanya terlihat sebagai hamparan dermaga, kapal, tumpukan batu bara dan aktivitas bongkar muat. Namun, dari atas kapal pandu, wajah pelabuhan itu terasa berbeda.
Sore itu, laut menjadi jalan untuk mengenali lebih dekat denyut kehidupan Pulau Baai. Riak air membawa rombongan RRI, TVRI dan ANTARA menyusuri alur pelabuhan, melihat dari dekat persoalan sedimentasi, kapal keruk hingga aktivitas komoditas yang selama ini menjadi bagian penting dari pergerakan ekonomi Bengkulu.
Perjalanan itu berlangsung setelah Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Biro Bengkulu menandatangani nota kesepahaman kerja sama dengan PT Pelindo Regional 2 Bengkulu.
Tidak berhenti di atas meja dan lembaran dokumen, kerja sama itu langsung diterjemahkan dalam sebuah perjalanan.
General Manager PT Pelindo Regional 2 Bengkulu, Dr. Dimas Rizky Kusmayadi, mengajak langsung para pimpinan media tersebut melihat Pulau Baai dari sisi yang selama ini jarang terlihat./ Yakni, Kepala LPP RRI Bengkulu Ir. Rozani, Kepala LPP TVRI Bengkulu Fonda Rafael, dan Kepala Biro LKBN ANTARA Bengkulu Anom, bersama rombongan.
Perlahan kapal meninggalkan dermaga dan membelah permukaan laut. Suasana yang semula terasa resmi berubah menjadi lebih cair. Canda dan tawa sesekali terdengar ketika Dimas menjelaskan berbagai sisi Pelabuhan Pulau Baai kepada rombongan. Tetapi di balik suasana santai itu, ada persoalan besar yang menjadi perhatian.
Kapal diarahkan menuju mulut alur untuk melihat langsung kawasan yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama Pelabuhan Pulau Baai yaitu sedimentasi.
General Manager PT Pelindo Regional 2 Bengkulu Dimas Rizky menyebutkan, alur yang sebelumnya sempat dangkal bahkan tertutup sedimentasi, kini telah kembali terbuka setelah dilakukan pengerukan.
“Kapal dapat melintas dengan lebih aman,” ujarnya pada Kamis, 17 September 2026.
Sekitar 20 menit perjalanan, kapal pandu tiba di mulut alur. Dari titik itu, kapal berputar dan kembali memasuki kolam dermaga. Terlihat pemandangan dari tengah laut kemudian berubah.
Hamparan fasilitas pelabuhan terlihat dari kejauhan. Tumpukan batu bara untuk kebutuhan aktivitas PLTU tampak memenuhi salah satu kawasan. Di belakangnya, cerobong pembangkit terlihat mengepulkan asap ke langit.
Perjalanan berlanjut menuju stok file batu bara milik PT Pelindo Regional 2 Bengkulu. Tak jauh dari sana, sebuah kapal keruk menjadi pemandangan yang tak kalah penting. Kapal itu bukan sekadar bagian dari fasilitas pelabuhan, tapi menjadi salah satu penjaga agar pintu masuk Pulau Baai tidak kembali ditutup oleh sedimentasi.
Sore itu kapal keruk sedang beristirahat. Namun pekerjaannya belum benar-benar selesai. Sebab laut selalu membawa pasirnya sendiri. Apa yang hari ini sudah dikeruk dan dibersihkan, suatu waktu dapat kembali menjadi endapan. Karena itulah, menjaga alur Pulau Baai bukan pekerjaan sekali jadi.
Dimas menjelaskan, kondisi gelombang dan arus di kawasan tersebut membuat proses pengerukan membutuhkan perhatian khusus. Untuk kondisi alur saat ini, kapal sudah dapat melintas. Namun kapal dengan bobot lebih berat masih harus memperhatikan kondisi pasang air laut agar dapat memasuki kolam dermaga dengan lebih aman untuk melakukan aktivitas bongkar muat.
“Tapi yang jelas, ada harapan agar sebuah pelabuhan di Bengkulu mampu menjadi pintu bagi bergeraknya perekonomian,” katanya.
Setelah lebih kurang satu jam berkeliling, kapal pandu akhirnya kembali menuju dermaga. Rombongan turun satu per satu. Sebelum meninggalkan kapal, mereka berfoto bersama di depan kapal pandu.

Bagi Dimas, kerja sama dengan RRI, TVRI dan ANTARA memiliki arti penting, karena Pelindo memiliki cita-cita menjadikan Pelabuhan Pulau Baai sebagai salah satu urat nadi perekonomian nasional, termasuk sebagai pintu masuk dan keluar komoditas seperti CPO dan batu bara.
Karena itu, insan pers dinilai memiliki posisi penting dalam menyampaikan berbagai perkembangan pelabuhan kepada masyarakat.
Terlebih menurutnya, tantangan pengembangan alur Pelabuhan Pulau Baai tidak sederhana. Dimana gelombang dan arus menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi. Dengan demikian proses pengerukan membutuhkan perhatian khusus, sementara prosedur keselamatan harus tetap menjadi prioritas.
“Dengan kolaborasi ini tidak hanya membuat masyarakat mengetahui apa yang terjadi di Pulau Baai, tetapi juga memahami mengapa keberadaan pelabuhan ini penting bagi Bengkulu. Belum lagi Pelabuhan Pulau Baai bukan hanya milik Pelindo, tetapi semua, karena memiliki peran strategis bagi perekonomian daerah dan nasional,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....